SEMARANG, ReaksiNasional.com – Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan akan memberikan sanksi tegas kepada sekitar 3.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Brebes yang diduga menggunakan aplikasi presensi fiktif.
Pernyataan itu disampaikan Sumarno usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Jawa Tengah di Gedung Berlian Semarang, Rabu (6/5/2026), mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin.
Menurut Sumarno, sanksi yang diberikan akan disesuaikan dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan ASN. Bentuk sanksi mulai dari teguran lisan hingga penurunan jabatan.
“Sanksi itu harus. Sanksinya bertingkat. Ada yang teguran lisan, tertulis. Bisa saja berupa penurunan atau penundaan kenaikan pangkat, bahkan penurunan jabatan. Sesuai dengan bobot pelanggaran yang akan dirumuskan oleh tim nanti,” tegasnya.
Selain sanksi terhadap ASN, Sumarno juga menyoroti perlunya perbaikan sistem aplikasi presensi yang digunakan. Ia menilai instrumen pengawasan dan pengendalian harus diperkuat agar tidak terjadi penyalahgunaan, terutama terkait sistem kerja dan kehadiran pegawai, termasuk skema Work From Home (WFH).
“Kalau benar itu fake, instrumennya juga harus diperbaiki, pengawasannya maupun pengendaliannya,” imbuhnya.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah melakukan assessment terhadap Pemerintah Kabupaten Brebes sebagai bagian dari fungsi pembinaan. Pemkab Brebes pun disebut terus berkoordinasi dengan Pemprov Jateng dalam penanganan kasus tersebut.
Terkait langkah hukum yang ditempuh Pemkab Brebes dengan melaporkan persoalan itu ke kepolisian, Sumarno menilai hal tersebut masih perlu didalami untuk memastikan ada tidaknya unsur pelanggaran pidana.
Lebih lanjut, Sumarno mengingatkan seluruh ASN di Jawa Tengah agar membangun kesadaran dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas sebagai pelayan masyarakat. Ia mengibaratkan perilaku manipulasi presensi seperti pekerja yang tidak jujur kepada pemberi kerja.
“Sering yang saya sampaikan bahwa marilah kita analogikan seperti kita di rumah. Kita mengundang tukang untuk memperbaiki rumah. Kira-kira kalau dia fake absen, terus dia ngapusi absennya, kita rela nggak?” ujarnya.


