SEMARANG, ReaksiNasional.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah menutup tanggul jebol Sungai Silandak yang menyebabkan banjir di wilayah Semarang Barat dan Ngaliyan, Kota Semarang. Pemerintah saat ini masih melakukan koordinasi lintas instansi untuk penanganan lanjutan dan jangka panjang guna mencegah kejadian serupa terulang.
Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, mengatakan pihaknya sebenarnya telah melakukan langkah antisipasi sebelum banjir terjadi dengan memasang talut darurat di lokasi tanggul yang rawan jebol.
“Untuk Silandak Jembawan sudah ada penanganan sejak Jumat, 8 Mei 2026. Namun, talut darurat tersebut dihantam arus banjir dan material pasir hingga hanyut terbawa air,” kata Bergas, Sabtu (16/5/2026).
Menurutnya, BPBD terus menerjunkan personel untuk memantau kondisi di lapangan, membantu warga terdampak, serta melakukan kerja bakti membersihkan sisa material banjir di sejumlah titik terdampak.
“Hari ini kami melakukan pengecekan lokasi dan penanganan darurat. Untuk penanganan jangka panjang masih kami koordinasikan,” ujarnya.
BPBD Jawa Tengah juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Pemali Juana terkait penanganan tanggul serta langkah teknis lanjutan untuk penguatan infrastruktur pengendali banjir.
Sebelumnya, Sungai Silandak di wilayah Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Kota Semarang, meluap setelah hujan deras mengguyur kawasan Semarang bagian barat dan selatan pada Jumat (15/5/2026) malam. Luapan sungai menyebabkan banjir di sejumlah permukiman di Kecamatan Ngaliyan dan wilayah sekitarnya, termasuk Mangkang.
Dalam peristiwa tersebut, dua warga dilaporkan meninggal dunia dan satu orang lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menyampaikan duka cita mendalam atas musibah banjir akibat luapan Sungai Silandak yang menimbulkan korban jiwa.
“Saya sudah meminta seluruh jajaran terkait bergerak cepat melakukan penanganan darurat, membantu warga terdampak, serta memaksimalkan proses pencarian korban,” ungkap Ahmad Luthfi.
Ia menegaskan keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama, termasuk langkah evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase serta kawasan rawan banjir agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan korban jiwa.
Menurutnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Semarang, BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan agar penanganan di lapangan berjalan cepat dan terpadu.
“Kami juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan karena cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah,” ujarnya.
Gubernur menambahkan mitigasi bencana harus diperkuat bersama melalui normalisasi sungai, pengendalian lingkungan di daerah aliran sungai, hingga edukasi kebencanaan kepada masyarakat.
“Pemerintah tidak akan tinggal diam dan akan memastikan langkah penanganan jangka pendek maupun jangka panjang dilakukan secara serius demi melindungi warga,” tandasnya.


