Raja Sisingamangaraja ke XII dan Putri Lopian Boru Sinambela yang Anti Kolonialisme

By Reaksi Nasional 25 Nov 2020, 13:55:00 WIBMegapolitan

Raja Sisingamangaraja ke XII dan Putri Lopian Boru Sinambela yang Anti Kolonialisme

Keterangan Gambar :  Monumen Lopian Boru Sinambela Putri Raja Sisingamangaraja ke XII.


Oleh Khairuddin Sinambela 

REAKSI JAKARTA-Tragedi pertempuran yang sangat sengit antara pasukan Raja Sisingamangaraja ke XII melawan bala tentara kolonial Belanda pada pertengahan Juni 1907 di hutan belantara Pearaja, Sionom Hudon, Dairi, menewaskan sang raja bersama dua putranya (Patuan Nagari, Patuan Anggi) dan putrinya (Putri Lopian) serta para panglima yang setia mengikuti sang raja.

Putri Lopian adalah sosok putri yang setia mendampingi sang ayahandanya untuk bergerilya dalam kancah perjuangan yang melelahkan guna menentang penjajah, yakni kolonial Belanda.

Namun sebelum kematian Putri Lopian, Raja Sisingamangaraja ke XII telah memerintahkan keluarganya untuk mencari perlindungan yang aman bagi mereka. Tapi sayang, Lopian tetap bersikeras pada pendiriannya untuk tetap ikut bergerilya bersama ayahnya melawan penjajah.

Lopian dalam konteks perang Sisingamangaraja ke XII bukanlah sekedar penonton atau pelengkap penderita, tapi justru dia adalah pejuang yang ikut berada di garis terdepan. Dia ikut bergelut dengan kemelut, bergerilya di tanah yang penuh bebatuan, duri di dalam hutan belantara.

Ia pun mengetahui bahwa posisinya tidak menguntungkan saat peluru tajam dari sang musuh berdesingan di kiri kanan telinga serta diatas kepalanya. Dan mungkin juga ia mengetahui bahwa dirinya menjadi beban tersendiri yang paling berat untuk sang ayahandanya. Tapi, Lopian telah mengambil suatu keputusan yang penting, apapun yang terjadi ia tetap ingin bergerilya bersama ayahnya untuk menentang penjajah.

Walaupun tingkat perjuangan Lopian mungkin belum bisa dibandingkan dengan perjuangan Cut Nyak Dhien di Aceh. Karena Cut Nyak Dhien adalah figur sentral yang langsung memimpin perjuangan dilapangan. Tapi, dari sisi kadar kejuangan dan semangat anti kolonialisme yang dimiliki Lopian adalah merupakan salah satu nilai kadar kesamaan dengan Cut Nyak Dhien. 

Saat itu tanggal 17 Juni 1907 menjadi sore yang kelabu, karena perlawanan Raja Sisingamangaraja ke XII dalam posisi terjepit oleh kepungan pasukan Belanda yang dipimpin Kapten Christoffel. Sepertinya perlawanan Raja Sisingamangaraja ke XII sudah ditakdirkan untuk berakhir sampai di situ. 

Pasukannya yang bersenjatakan bambu runcing, kelewang dan tombak sudah tidak seimbang lagi dengan hujan peluru yang dimuntahkan oleh senjata pasukan Christoffel. Pasukan Sisingamangaraja sudah banyak yang tewas di tembus peluru tajam dari tentara Belanda yang tidak ada henti-hentinya, termasuk putranya Patuan Nagari. Kapten Christoffel pun menyerukan agar Raja Sisingamangaraja ke XII menyerah dan menyerahkan Piso Gajah Dompak yang terkenal kramat dan sakti itu. 

Namun, Raja Sisingamangaraja ke XII dari tempat persembunyiannya berkata dengan tegas "Lebih baik mati daripada menyerah kepada penjajah".

Pada saat bersamaan sang raja mendengar jeritan Lopian (putrinya) yang sudah terkena tembakan musuh. Seketika itu sang raja terkesima melihat keadaan putri tercintanya rubuh bersimbah darah diatas rerumputan. Dengan Piso Gajah Dompak yang terhunus di tangan Sisingamangaraja ke XII mendekati Lopian dan langsung memangku sang putri yang sudah sekarat akibat terjangan peluru penjajah.

Namun, saat itu Raja Sisingamangaraja ke XII tersentak dan sadar, bahwa dia berpantang kena darah. Tubuhnya digambarkan lesu dan kesaktiannya yang legendaris itu seakan pudar. 

Tak berapa lama beliau juga rubuh dan tewas oleh tembakan yang dilepaskan Kapten Christoffel dengan jarak yang tidak begitu jauh. Spontan, para panglima dan pengikutnya bagai terpana melihat kejadian itu, karena mereka sulit mempercayai sang raja bisa terkena dan dilukai peluru.

Medio Juni 1907 adalah detik-detik klimaks yang amat dramatis dari seluruh mata rantai dan akhir perlawanan Raja Sisingamangaraja ke XII terhadap sang penjajah. Selama 30 tahun beliau menentang penjajahan yang dilakukan oleh kolonial Belanda. 

Saat itu merupakan momentum yang genting penuh ketegangan karena sang raja bersama istri, anak-anaknya, panglima dan sisa pasukannya terlunta-lunta naik turun jurang, keluar masuk hutan dari kejaran tentara Belanda yang jumlahnya besar dengan kelengkapan senjata yang lebih modern.

Namun, saat kami melakukan perjalanan pada tanggal 17 Agustus 2015 menuju makam tempat tewasnya Raja Sisingamangaraja ke XII dan Putrinya Lopian di perbukitan desa Sionom Hudon, Pearaja, Dairi terkesan kurang terawat. Pasalnya, akses jalanan menuju  makam tersebut masih ada yang melewati jalanan setapak pada waktu itu. 

Dimana pada saat itu kendaraan belum bisa sampai hingga dekat ke makam tempat gugurnya Raja Sisingamangaraja ke XII dan Putri Lopian boru Sinambela tersebut.  (R1) 
 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • beAmbuffalatt

    [url=https://cial20mg.online/]tadalafil 25mg[/url] ...

    View Article
  • dreast

    side effects of levitra generic <a href="https://cialnm.com/">tadalafil ...

    View Article
  • dreast

    effects of viagra for men without ed <a ...

    View Article
  • JoshuaSip

    [b][url=https://gan-bcn.com/en/proyectos/espaiganc-2/#comm ent-354593]Spanish Manhattan[/url][/b] ...

    View Article