Program Desmigratif Diyakini Sebagai Solusi Kehidupan dan Ekonomi TKI Purna

By Reaksi Nasional 05 Des 2019, 10:27:58 WIBNasional

Program Desmigratif Diyakini Sebagai Solusi Kehidupan dan Ekonomi TKI Purna

Keterangan Gambar : Retno Indra (ketiga dari kiri) petugas sosial yang aktif mengedukasi masyarakat PMI di Desa Kenangan, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu bersama aparat Pemda Disnakertrans Kabupaten Indramayu (wanita, ke tiga dari kanan). Kerjasama edukasi dengan pemerintah menjadikan daerah itu sebagai pilot project pelaksanaan program Desmigratif


Oleh Friendly Sianipar

REAKSI JAKARTA – Potret kehidupan masyarakat Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu secara berangsur angsur membaik seiring banyaknya warga desa itu menjadi Tenaga Kerja Indonesia atau Pekerja Migran Indonesia (PMI) di luar negeri. Bangunan rumah mewah permanen tampak saling berderet di pinggir jalan. Bahkan akses jalan yang sudah diaspal pun membuat desa itu berkembang.

Yang menarik, bangunan rumah itu menandakan tempat negaranya bekerja. Bila bangunan rumah tampak mewah, ia dipastikan bekerja di kawasan asia pasifik, tetapi jika bangunan rumahnya sederhana, bahkan belum dipugar, ia bekerja di kawasan timur tengah.

Meski tampak berderet rumah mewah dan sederhana, namun, siapa sangka tingkat perceraian di desa itu meningkat. Salah satu penyebab meningkatkannya angka perceraian itu diduga karena pola kehidupan para wanita yang bekerja di luar negeri, berubah. Sebelumnya, ketika masih tinggal di desa, mereka pada umumnya tidak mengenal gaya hidup konsumtif. Tetapi setelah berada di luar negeri, kehidupannya berubah. Mereka cenderung menghabiskan uangnya dengan cara belanja barang mewah serta kebutuhan barang lainnya.

“Dengan gaya hidup yang berubah itu, mereka cenderung minta cerai dari suaminya. Padahal ketika hendak bekerja ke luar negeri, mereka mendapat restu dari suaminya,” kata pendamping Desa Migrant Produktif (Desmigratif) Darwinah ketika Renas berkunjung ke Desa Kenanga, Kamis (5/12).

Ia menyebutkan, bahasa yang terungkap dari para wanita itu ketika akan menceraikan suaminya adalah, suami tidak bisa menafkahi. Hal ini, kata Darwinah sangat menyimpang dari komitmen awal mereka yang hendak bekerja ke luar negeri.

“Dulu ada komitmen diantara mereka, yakni bekerja ke luar negeri agar bisa membangun rumah dan membeli kebutuhan rumah tangga. Tetapi banyak wanita yang menyimpang dari komitmen tersebut,” kata Darwinah, PMI yang juga pernah bekerja di Hongkong

Retno, suami Darwinah juga menyebutkan, dulu, dari 20 wanita asal Desa Kenanga yang bekerja di luar negeri, ada lima hingga enam yang bercerai. Kondisi ini, ujar Retno akan berpengaruh terhadap physikologis anak anaknya, terutama dengan pendidikanya.

“Cenderung yang mengasuh dan membesarkan anak anaknya itu adalah neneknya, sehingga sangat rentan putus sekolah” katanya.

Namun seiring dengan program Desmigratif yang dilaksanakan sejak 2016 lalu, tingkat perceraian di Desa Kenanga makin menurun. Program Desmigratif yang diusung Kemnaker itu mampu membawa perubahan mindset PMI dan keluarga, termassuk orangtunya.

“Dengan adanya program Desmigratif, maka secara lambat laun, ada perubahan penurunan tingkat perceraian disekitar lingkungan keluarga PMI. Mindset mereka mulai berubah setelah mendapat bimbingan physikolog berupa consuling bina warga PMI,” kata Retno.

Sebagaimana diketahui, program Desmigratif mengusung solusi empat pilar dalam menangani dan mengembangkan perubahan kehidupan PMI dan keluarganya. Pertama, Layanan Migrasi. Dalam layanan ini, kata Darwinah, setiap warga Kenanga yang berangkat ke luar negeri harus sesuai prosedur. “Pihak Disnaker dan Kepala Desa terlibat dalam verifikasi dokumen. Jadi ada keterlibatan aparat desa agar warganya yang akan bekerja di luar negeri harus sesuai prosedur yang tekah dibuat pemerintah,” katanya

Kedua, Komunity Parenting. Konsep ini adalah melaksanakan pembinaan dan pendampingan kepada keluarga TKI, termasuk membina anak anaknya. Darwinah menjelaskan, dalam pelaksanaan konsep komunity parenting itu, tim pendamping Desmigratif memberikan pelatihan literasi keuangan agar tidak konsumtif. Kemudian mengedukasi anak anak PMI dengan mengikutsertakannya mengikuti pendidikan keagamaan dan pelajaran formal.

Ketiga, Ekonomi Produktif. Dalam hal ini, setiap keluarga PMI diikutkan mengikuti pelatihan wirausaha melalui usaha produktif. Ke empat, Koperasi Simpan Pinjam. Setiap PMI yang berwirausaha disarankan aktif menyimpan uang agar mampu mengembangkan usahanya kelak.

“ Jadi tujuan utama Desmigratif adalah meminimilasir pemberangkatan PMI ilegal dan menjadikannya sebagai wirausahawan agar tidak kembali bekerja ke luar negeri. Dengan adanya program Desmigratif ini, maka minat warga Desa Kenanga bekerja ke luar negeri semakin menurun tiap tahun,” katanya

Jumlah warga Kenangan yang bekerja di luar negeri pada 2016, katanya melanjutkan adalah 410 orang. Kemudian pada 2018 menjadi 250 orang serta pada 2019 hanya 50 orang.

Desa Kenangan yang dijadikan sebagai pilot projcet Desmigratif itu mampu mengubah kehidupan dan perilaku warganya. Kehidupan yang dulu serba berkekuragan, kini secara perlahan bisa berkecukupan dengan menekuni usaha pembuatan makanan yang terbuat dari bahan mangga dan ikan.

Mereka memanfaatkan sumber daya alam dan laut menekuni usahanya. Tiap hari mereka memproduksi berbagai jenis makanan seperti dodol mangga, kripik mangga, jus, manisan, sirup dan rujak. Olahan makanan terbuar dari bahan ikan, seperti kripik bakso ikan, krupuk kulit, krupuk, kripik usus ayam dan jambal roti.

“Produk makanan ini sudah dilengkapi dengan produk halal dan pemasaran merambah pasar regional, nasional dan internasional. Selain di dalam negeri, produksi makanan ini juga sudah sampai ke negera Amerika, Taiwan dan Singapura. Untuk mengembangkan pemasarannya, kami juga akan menjualnya melalui on line,” katanya sambil menambahkan, omzet dari penjualan itu bisa mencapai ratusan juta per bulan

Caswati (39), mantan PMI di Taiwan mengaku bisa hidup mandiri dari usahanya. Wanita dengan tiga anak ini menggeluguti usaha pembuatan kripik bakso ikan goreng, kripik ikan, sambal goreng dan jenis makanan lainnya bersama suaminya. Dengan omzet Rp. 10 juta per bulan, ia mengaku tak berniat lagi menjadi PMI. Dengan omzet itupula, ia mampu menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya.

“Program Desmigratif ini membawa perubahan kehidupan dan ekonomi kami. Pemerintah telah mengajarkan kami hidup mandiri sehingga tidak perlu lagi bekerja di luar negeri,” katanya.

Namun ironisnya, program Desmigratif itu terancam bubar karena masa pembinaan dari Kemnaker akan habis. Kemnaker membina desa kantong kantong PMI hanya tiga tahun.

“Kemnaker hanya tiga tahun membina desa desa buruh migran. Selebihnya, kami berharap ada kerjasama Desmigratif dengan pemda setempat, terutama dalam pengembangan usahanya,” kata mantan staf khusus Menaker Hanif Dhakiri, Magdalena, ketika bertemu dengan Renas di Indramayu, Kamis (5/12). (R1)

 

 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • modafinil kaufen apotheke

    modafinil preis modalert 100 kaufen ...

    View Article
  • modafinil kaufen ohne rezept

    provigil kaufen ohne rezept modafinil online bestellen ...

    View Article
  • vigil 200 mg preis

    modalert 200 kaufen modafinil 100 mg preis provigil bestellen ...

    View Article
  • modafinil apotheke

    modafinil bestellen deutschland modafinil kaufen niederlande ...

    View Article