Pengamat Tolak 600 WNI Eks ISIS yang Terlibat Kekerasan di Suriah Dipulangkan

By Reaksi Nasional 13 Feb 2020, 09:37:18 WIBNasional

Pengamat Tolak 600 WNI Eks ISIS yang Terlibat Kekerasan di Suriah Dipulangkan

Keterangan Gambar :


Oleh Bontor Sitanggang

REAKSI JAKARTA - Setelah kekalahan ISIS di Suriah, kondisi 600 WNI yang berangkat ke Suriah bergabung dengan organisasi teroris ISIS, kini terkatung-katung. Pemerintah Indonesia dengan tegas mengatakan menolak memulangkan mereka karena 600-an WNI itu bergabung dengan anggota teroris internasional.

Penolakan Pemerintah Indonesia itu dikatakan oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Mahfud MD. Ia menegaskan kembali bahwa pemerintah tidak akan membantu kepulangan ratusan WNI eks simpatisan ISIS yang telantar di Timur Tengah.

Mahfud mengatakan pemerintah pasti akan membantu kepulangan WNI di luar negeri yang tidak berafiliasi dengan kelompok teroris. Sementara mereka yang sudah digolongkan sebagai Foreign Terrorist Fighters (FTF) akan dibiarkan oleh pemerintah.

"Kalau teroris enggak dipulangkanlah. Kalau orang di luar negeri tidak teroris ya lapor aja ke kedutaan. Kalau teroris, enggak [dibantu pulang]. FTF kan itu dan sudah membakar paspor bahkan nantang itu, masak [dibantu pulang]," kata dia di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta Pusat, Rabu (12/1).

Keputusan pemerintah yang mengatakan penolakan pemulangan eks ISIS tersebut mendapat tanggapan yang beragam di berbagai kalangan masyarakat.

Pengamat hukum internasional dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Dian Parluhutan mengatakan sesuai dengan pendapat hukumnya, negara itu tidak boleh menolak untuk menerima kembali warganya yang akan kembali ke tanah kelahirannya.

"Pemerintah perlu melakukan seleksi secara detail, pertama WNI yang terlibat langsung dengan kegiatan kekerasan dan juga WNI yang hanya pendukung tidak terlibat langsung dengan aksi kekerasan," kata Dian kepada Renas, Rabu (12/02/2020).

Menurut Dian, untuk kategori WNI yang terlibat langsung dengan kekerasan di Suriah, sebaiknya jangan dipulangkan dulu, akan tetapi bagi WNI yang hanya sebagai pendukung harus dipulangkan dan dilakukan reradikalisasi.

"Untuk kategori pertama bisa dipulangkan setelah melewati deradilaisasi selama lima tahun lebih yang dilaksanakan di luar Indonesia," paparnya.

Selain itu, kata Dian, orang-orang yang menjadi provokator sebagai pemicu dan mengajak WNI lainnya untuk berjuang menjadi pasukan ISIS ke Suriah, mereka harus ditolak kehadirannya di Indonesia.

"Warga yang sudah kembali, pemerintah harus melakukan pemutusan hubungan dari para eks jihadis ini dengan rekan-rekan mereka yang masih terlibat dengan kegiatan radikal, kemudian pemerintah memberikan deradikalisasi dan memberikan pendidikan dan cara pikir yang baru tentang bagaimana menjadi warga negara yang baik dan patuh terhadap ideologi Pancasila," tutur Dian.

Sementara itu, pengamat politik dan kebijakan dari Point Indonesia Karel Susetyo, mengatakan apa yang menjadi keputusan pemerintah Indonesia adalah baik sebab sudah melewati pembahasan dan kajian yang matang.

"Menurut saya keputusan itu sudah tepat. Sesuai dengan aturan yang berlaku secara nasional dan internasional. Selain juga dari sisi ketahanan negara, pemulangan tersebut sangatlah riskan," kata Karel kepada Renas, Rabu (12/02/2020).

Banyak pertimbangan pemerintah untuk mengambil keputusan itu, sebab itu resiko yang harus ditanggung oleh negara di mata dunia harus juga diperhitungkan.

"Mereka ini sebagian besar sangat anti ideologi Pancasila dan NKRI. Serta mereka juga kombatan yang sudah sumpah setia kepada negara lain, selain NKRI. Jelas suatu saat mereka akan mengamalkan apa yang diyakini benar selama ini bahwa NKRI dan Pancasila adalah thoghut," ujarnya.

"Bibit terorisme sudah tertanam dalam pada diri mereka. Saya rasa upaya deradikalisasi pun sulit untuk "menyembuhkan" mereka ke jalan yang benar," sambung Karel.

Dikatakannya, jangan sampai pemerintah mempertaruhkan bangsa dan mengambil resiko yang sangat riskan hanya untuk memulangkan orang yang sudah terpapar radikal.

"Akan sangat lucu sekali ketika banyak negara menolak kembalinya eks warga negara mereka yang menjadi anggota ISIS, justru kita menerima dengan tangan terbuka. Contohnya Inggris dan Australia, mereka menolak secara keras meski hanya sejumlah kecil eks warga negaranya saja," papar Karel.

Selain itu, dunia internasional akan mempertanyakan Indonesia dalam memerangi aksi terorisme apabila memulangkan yang sudah pernah bergabung dengan ISIS.

"Terbaik dan tepat. Indonesia bisa dianggap mendukung ISIS secara tertutup," pungkas Karel. (R2)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • saitsImardrers

    online slots <a href=" http://onlinecasinosgtx.com/ ">play slots ...

    View Article
  • saitsImardrers

    casino game [url=http://onlinecasinosgtx.com/ ]casino online slots [/url] online casino ...

    View Article
  • Terryasabunc

    cialis to control blood pressure https://www.liverichandfree.com/# - buy cialis ...

    View Article
  • wyyikznhvm

    Statutory vignette are phlogistic in the NSICU <a ...

    View Article