Pengamat: Tiga Debat Pilpres Harus Lebih Dioptimalkan

By Reaksi Nasional 21 Feb 2019, 11:20:48 WIBNasional

Pengamat: Tiga Debat Pilpres Harus Lebih Dioptimalkan

Keterangan Gambar :


Oleh Bontor Sitanggang

REAKSI JAKARTA - Pengamat komunikasi politik dari Lembaga EmrusCorner, Emrus Sihombing mengatakan sekalipun debat kedua dibanding debat pertama Pilpres 2019 ada kemajauan, namun masih ada yang harus dioptimalkan agar debat selanjutnya lebih baik dan orientasi pada kepentingan pemilik hak suara, bukan kepentingan Paslon, partai pengusung dan para pendukung.

Emrus memaparkan setidaknya ada beberapa hal yang sangat baik untuk diimplementasikan pada tiga debat yang masih tersisa. Peserta yang hadir, seharusnya representasi pemilik hak suara, yaitu rakyat Indonesia. Setidaknya ada empat kelompok pemilik hak suara yang seharusnya hadir pada acara debat, yaitu kaum melinea, pemilih pemula, kelas sosial yang belum beruntung utamanya dari desa-desa terpencil, dan kelompok masyarakat yang berpotensi menjadi golput.

"Representasi dari keempat kategori ini justru yang harus hadir dalam acara debat. Mereka  harus mendapat akses informasi dan pengetahuan  yang lengkap dari dari sumber utama, terutama dari kedua paslon Pilpres ketika berlangsung debat," ujar Emrus, kepada Renas, Kamis (21/02/2019).

"Oleh karena itu, menurut saya, pendukung tidak perlu hadir dalam acara debat berikutnya. Sebab, para pendukung hampir sudah dapat dipastikan memiliki pilihan salah satu dari dua paslon Pilpres. Jadi, saya tegaskan, mereka tidak begitu penting hadir. Selain itu, para pendukung berpotensi dapat mengganggu jalannya debat karena terpicu rasa simpati atau larut dalam suasana kemeriahan atau menunjukkan rasa kurang senang terhadap salah satu elemen dari proses perdebatan," sambung Emrus.

Ia menilai, hakekat debat Pilpres bukan untuk Paslon, partai pengusung, apalagi pendukung memenangkan kontestasi pemilu, tetapi sesungguhnya untuk pemilik hak suara agar memperoleh pengetahuan yang paripurna membantu mengambil keputusan yang tepat menentukan pilihan dari kedua paslon Pilpres.

Sebenarnya, kata Emrus, KPU berharap rangkaian debat dapat memberikan informasi yang cukup bagi para pemilih untuk menentukan pilihannya pada 17 April 2019, demikian Ketua KPU, Arief Budiman, pada suatu kesempatan. Sayangnya, dua debat yang sudah berlalu belum mengedepankan kepentingan pemilik hak suara. Justru tampak seolah pesta kemeriahan dari para pendukung.

"Penyelenggaraan dua kali debat, menurut hemat saya, lebih mempertontonkan untuk kepentingan kedua paslon kandidat, partai pengusung dan pendukung. Ini sangat kurang tepat. Harusnya berorientasi kepada kepentingan pemilik hak suara," katanya.

Menurutnya, panelis debat haruslah dinamis dan substantif. Dinamis, panelis sejatinya diberikan kesempatan mengajukan tanggapan dan atau pertanyaan lanjutan yang lebih mengerucut, bila  jawaban peserta debat kurang substansial atau belum jelas.

Sebab, kata dia lagi, debat ini sekaligus melihat kapabilitas kandidat dalam merespon setiap persoalan yang terkait materi debat. Sesungguhnya panelis itu representasi “wakil rakyat” seluruh Indonesia untuk bertanya dan memberikan tanggapan kepada calon pemimpinnya, karena mereka tidak mungkin hadir di ruang debat.

"Substantif, pertanyaan dan atau tanggapan dari panelis harus menukik, tidak boleh normatif, apalagi monoton. Contoh pertanyaan yang substantif yang menukik, saudara kandidat, mohon dijelaskan road map pemberantasan korupsi di Indoensia, kelak bila saudara memimpin negeri ini lima tahun ke depan,” tuturnya.

Sementara itu, hal pendukung lainnya adalah ketegasan moderator untuk menyetop pembicaraan jika peserta debat melewati waktu yang tersedia, dengan batas toleransi maksimal sepuluh detik. Setelah itu,  teknologi komunikasi pengeras suara otomatis berhenti.

Selain itu, waktu yang diberikan kepada peserta debat tiga menit memberikan pandangan atau jawaban pada setiap setting, agar peserta debat cukup waktu menarasikan pikiran, gagasan dan idenya secara tuntas. Sangat tidak memadai hanya satu atau dua menit.

"Jangan lupa, penjelasan dengan ketersediaan waktu yang cukup, sekaligus membantu pemilik hak suara memahami jalan pikiran pada peserta debat. Karena itu, sekali lagi saya berpendapat, debat ini untuk pemilik hak suara," ungkap Emrus.

"Meskipun, peserta debat sudah selesai memberikan pandangan atau tanggapan sementara waktu yang tersedia masih ada tersisa, peserta debat berkewajiban menekan tombol sebagai tanda bahwa dia telah berakhir memberikan pandangan," tandas Emrus. (R2)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • custom t shirt manufacturers china

    I was wondering if you ever thought of changing the structure of your website? Its ...

    View Article
  • cashmere sweater manufacturers in india

    Hi! I could have sworn I've been to this site before but after going through ...

    View Article
  • mercerized cotton polo shirts

    Awesome blog! Do you have any tips for aspiring writers? I'm planning to start ...

    View Article
  • cheerleader uniform dress

    I think this is one of the most important info for me. And i am glad reading your ...

    View Article