Natalius Pigai : Tulisan Chatib Basri Itu Hanya Puja-Puji

By Reaksi Nasional 19 Feb 2018, 16:31:57 WIBNasional

Natalius Pigai : Tulisan Chatib Basri Itu Hanya Puja-Puji

Keterangan Gambar : Natalius Pigai


Oleh Friendly Sianipar

REAKSI JAKARTA –  Karya tulis yang dibuat Chatib Basri, mantan Menteri Keuangan (Menkeu) di Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat kritikan tajam dari aktivis Natalius Pigai. Tulisan yang dibuat di BBC Indonesia berjudul Menteri Terbaik di Dunia: Mengapa Sri Mulyani Layak Mendapatkan Predikat Itu?

Menurut Natalius, tulisan itu sifatnya berlebihan dan cenderung membela Sri Mulyani sebagai Menkeu yang pantas mendapatkan penghargaan justru menjadi bumerang bagi Chatib karena banyak orang mencemooh dan tidak merespons positif.

“Saya sudah membaca tulisan Chatib Basri yang isinya membela secara berlebihan. Meskipun saya bukan ahli ekonomi dan ekonom, tetapi saya kecewa ketika membaca tulisan yang tidak mampu menunjukkan data-data postulat atas pembelaan tersebut. Isi tulisan itu, adalah muja-muji berlebihan kepada Sri Mulyani dan Ernst dan Young,” kata Natalius dalam rilis yang diterima Reaksi, Senin (19/2/2018).

Ia menyebutkan, meski tidak paham ekonomi, namun dirinya mengerti karena pernah menjadi Kepala Bidang Statistik Pusat Data dan Informasi di Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Dengan jabatan tersebut, ia  bisa menilai dan mengkritisi kritik tulisan tersebut.

Mantan Komisioner HAM itu mengatakan, dalam tulisan itu Chatib menjelaskan Sri Mulyani mampu melakukan keberhasilan kebijakan reformasi fiskal sebagai sebuah prestasi.

Dengan ungkapan keberhasilan itu, Nataliuspun mempertanyakan kebijakan fiskal apa yang bisa dibanggakan? Bukankah sebaliknya, justru memperlambat pertumbuhan ekonomi dan pengangguran dan kemiskinan meningkat tajam.

Ia mempertanyakan itu karena mencontohkan, banyak kepala daerah yang stres karena penarikan kembali anggaran belanja negara yang sudah ditransfer menyebabkan pembangunan terganggu karena sebagian besar kabupaten dan kota di Indonesia hidup karena pengeluaran pemerintah (government expenditure).

Demikian pula dengan tata kelola perpajakan yang kurang progresif. Kemudian kebijakan amnesti pajak yang tidak mampu mencapai target tiap tahun mendongkrak penerimaan negara dan memutus mata rantai manipulasi dan korupsi di lingkungan perpajakan dan pelaku usaha.

“Jadi saya belum melihat reformasi di institusi Kementerian Keuangan. Banyak problem dan permasalahan yang muncul di negara ini, salah satunya faktor kelalaian pengaturan aset dan kekayaan negara,” tandasnya.

Menurutnya, problem soal pemilikan aset pusat ke daerah seringkali menyebabkan instabilitas sosial khususnya aset yang mau diperuntukan bagi fasilitas umum dan masyarakat miskin.

“Hal ini kita lihat ketika terjadi kasus dan konflik lahan, khususnya daerah konsesi. Kemudian adanya penggelapan pajak di daerah konsesi yang sudah menjadi ibukota pemerintahan serta adanya bangunan milik swasta seperti mal,” ucapnya.

Ia juga menyebutkan, kasus di Kota Madya Dumai, Provinsi Riau adalah salah satu contoh. Kasus itu, terjadi sejak 1999 sampai sekarang, di mana pajaknya tidak pernah dibayar, padahal rumah pengusaha dan tempat usaha, perusahan, bahkan mal-mal besar sudah ada.

“Hal seperti itu hampir terjadi di seantero Nusantara. Jadi Kementerian Keuangan tidak mampu mengelola secara aset, sehingga justru banyak lahan negara di konsesi pihak swasta menjadi terbengkalai dan merugikan negara,” jelas dia.

Terkait soal kredibilitas, kata pria asal Papua ini, Sri Mulyani adalah kaki tangan yang membesarkan International Monetary Fund; (IMF) melalui utang piutang. Jadi semua tau, beberapa kasus yang membelit bangsa ini dan kasus lain yang menderanya.

“Jadi bayangkan, dalam pembayaran utang yang jatuh tempo pada 2018, pemerintah harus mampu membayar Rp800 triliun. Uang ini tidak hanya membayar utang pokok, tetapi juga bayar bunga kepada kreditor. Soal ini, Sri Mulyani disenangi dan ikut membesarkan kreditor dan mencekik negara. Saya menduga kebijakan itu menjadi salah satu pertimbangan lembaga internasional untuk memberi penghargaan tersebut,” katanya.

Untuk itu, kata Natalius, apa yang ditulis Chatib dalam tulisannya yang menyebutkan Sri Mulyani berprestasi terkait pengaturan fiskal, reformasi Kementerian Keuangan dan kemampuan serta kredibilitas, integritasnya, maka tidak ada yang bisa dibanggakan.

“Malah sangat menyedihkan. Intinya penulis yang mantan Menteri Keuangan ini tidak mampu meyakinkan pembaca. Tulisan itu lebih cenderung membanggakan dan ia tidak pandai menulis secara tajam. Jadi janganlah menjadi manusia yang penuh sandiwara di atas negeri ini,” ujarnya. ***

 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • crydradcavy

    viagra no prescription [url=https://viagrasildenafils.com/ ]generic viagra [/url] buy ...

    View Article
  • AnnaClink

    [url=http://viagraltab.com/]how to buy viagra usa[/url] ...

    View Article
  • Seargerefonge

    dissertation help online <a href=" https://collegeessaylke.com/ ">paying ...

    View Article
  • EvaClink

    [url=http://healthdrx.com/]where to buy retin a gel[/url] ...

    View Article