Nasib Guru Honorer di TPST  Bantargeng Butuh Perhatian

By Reaksi Nasional 26 Nov 2019, 19:12:49 WIBReaksi Bekasi

Nasib Guru Honorer di TPST  Bantargeng Butuh Perhatian

Keterangan Gambar : Para guru sedang memberikan pelajaran kepada para murid yang merupakan anak-anak dari para pemulung


Oleh Sihar Pardede

REAKSI BEKASI -Hari Guru sejatinya menjadi hari untuk menunjukkan penghargaan terhadap guru dengan penuh kegembiraan. Namun,  padan momen ini, masih banyak nasib guru yang mengenaskan, salah satunya yang dirasakan para guru honorer di perbatasan Bekasi dan Bogor, tepatnya di lokasi Tempat Pembuangan Sampat Terpadu (TPST) Bantargebang Kota Bekasi.

Menurut Bagong Suyoto, Ketua Koalisi Persampahan Nasional (KPNas) dan Pendiri Sekolah Pelangi Semesta Alam di Kawasan TPST Bantargebang, Selasa (26/11/19), masih ada sejumlah guru honorer atau non-PNS yang penghasilannya relatif sangat kecil, Rp 350.000-500.000/bulan.

Para guru itu beraktivitas di pinggiran pembuangan sampah TPA Bantargebang dan TPA Sumurbatu, Kota Bekasi. Itu pun sudah dibantu insentif Rp200.000/bunan.

“Coba bandingkan dengan gaji para komisaris dan direktur BUMN besarannya beberapa miliaran rupiah per bulan. Luar biasa besar. Gaji seumur hidup para guru honorer itu tidak bisa menutup hanya gaji sebulan para komisaris dan direktur BUMN. Ini cermin ketidakadilan semakin retak di republik ini,” kata Bagong.

Menurutnya, ada sejumlah guru honorer hidup di rumah kecil, rumah kontrakan, hidup serba pas-pasan. Bahkan ada yang tinggal di gubuk-gubuk pengap, bacin dengan sanitasi buruk sekali karena sarana MCK pun tidak punya dan harus numpang secara kolektif bersama pemulung.

“Kekemuhan pemukimannya begitu terasa dan tampak, namun tidak kelihatan bagi penguasa. Gubuk-gubuk kumuh yang didiami guru itu semacam punya ajian atau jimat tak tampak oleh penguasa,” imbuhnya.

Untuk memenuhi kebutuhan yang besar, kata dia,  harus gali lubang tutup lubang alias hutang sana sini. Bahkan, yang jatuh ke tangan retenir, dengan bunga pinjaman 10-20%/bulan. Guru honorer jatuh dalam jeratan rente. Hidupnya dikejar-kejar oleh hutang yang beranak-pinak, sistem rente sedang menghisap tubuhnya yang sudah kerempeng.

Sementara suaminya bekerja serabutan, pengais sampah di TPA, dan ada sebagai sopir, tukang ojek dan buruh pabrik.

“Jika suaminya upahnya mengikuti standar UMR, masih lumayan hidupnya tapi jika pekerjaan serabutan semakin menyedihkan,” turutnya.

Upah guru lanjut dia, honorer ditambah income kerja serabutan tidak cukup untuk membiayai kebutuhan dapur, beli sayuran, beli beras murah, minyak goreng, listrik, beli air mineral, biaya pendidikan, dll. Income-nya di bawah standar kemiskinan. Sementara harga-harga kebutuhan pokok primer dan skunder terus meroket.

Jika kredit sepeda motor harus setor Rp 600.000-700.000/bulan pasti keuangannya sebagian besar untuk mencicil kreditan motor. Sementara untuk mencukupi makan sehari-hari akan terasa berat. Guna menopang ekonomi keluarga yang tidak mencukupi, ada beberapa guru perempuan honorer menjadi buruh pilah sampah atau gibrik plastik kresek. Mereka memperoleh penghasilan Rp 35.000-50.000/hari. Uang tersebut dapat digunakan sebagai uang jajan dan ongkos sekolah.

Meskipun sebutannya guru honorer, tetap saja tugas dan amanahnya yang diemban berat sekali. Seperti guru TK dan PAUD posisinya lebih berat, karena mengatarkan anak-anak pada usia emas (golden age). Dimana kesuksesan manusia ditentukan pada proses pendidikan yang ditempuh pada usia emas tersebut. Artinya, pada pembentukan karakter dan keberhasilan ditentukan pada usia emas, usia 4-12 tahun.

Para guru honorer harus rajin datang ke sekolah, ikut mengerjakan urusan administrasi, belajar Kurtilas, Silabus, membuat RPPH, RPPM, dan tugas-tugas lain. Belum lagi mengikuti rapat-rapat, pelatihan, dan lainnya.

Lebih sibuk lagi jika Kepala Sekolah galak dan cerewet. Untuk meningkatkan kualitas harus menempuh strata S1 pendidikan atau tarbiyah dengan biaya sendiri. Mereka harus mengeluarkan berbagai biaya kuliah. Mereka ingin meningkatkan kapasitas diri agar tidak ketinggalan zaman. Juga harus menguasai informasi teknologi (IT) sebagai tuntutan seperti dimandatkan oleh perbagai peraturan perundangan sektor pendidikan dan Kurtilas.

Tuntutan dan tugas guru begitu banyak. Guru seperti referensi berjalan meskipun perannya bergeser. Dulu guru dianggap orang yang serba tahu, sehingga harus kuasai berbagai ilmu, seperti menguasai proses-proses pembelajaran, penguasaan kelas, media pembelajaran, ilmu pedagogi, ilmu psikologi, dll. Sekarang peran guru bergeser sebagai fasilitator sejalan dengan pertembangan IT.

Bila honor atau insentif guru kecil apakah mampu memenuhi kewajiban yang begitu banyak? Belum lagi tuntutan dunia pendidikan. Memikirkan diri dan rumah tangganya sudah pusing, hidup serba sulit. Kondisi seperti itu boleh jadi suasana perasaaan, pikiran dan perilaku guru akan oleng. Hal ini tercermin saat mengajar tidak fokus, tidak total dan hasilnya setelah beberapa bulan murid tidak mandiri, takut dan wajah anak didik suram.

Suasana pembelajaran tampak dan semakin keruh ketika hati dan wajah gurunya keruh akibat terhimpit kemiskinan yang melaten atau terstrukturalis!

“Sungguh dunia ini tidak adil bagi guru honorer? Padahal pekerjaan dan amanah guru sangat berat, yakni membentuk karakter dan budi pekerti yang luhur dan mulia. Semestinya negara, pemerintah memikirkan nasib para guru honorer tersebut,” tandasnya.

Semestinya, kata Bagong,  penguasa dan Pemerintah Pusat memiliki program khusus mengangkat nasib guru honorer.

Pertama, Pemerintah Pusat melalui Menteri Pendidikan dapat memberi insentif para guru honorer sesuai dengan UMR. Setidaknya bisa memetik insentif Rp 4,5-4,8 juta per bulan untuk wilayah Kota Bekasi.

Kedua, Pemerintah Pusat dapat menolong dan meningkatkan taraf hidupnya, terutama guru honorer yang berkeluarga tetapi belum memiliki rumah. Seperti mereka yang tinggal di gubuk-gubuk kumuh, kontrakan.

Ketiga, Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah dapat membuka peluang seluas-luasnya untuk mengangkat derajat para guru honorer khususnya di kota Bekasi, seperti peluang usaha kecil sesuai minat dan kemampuannya. Ini agar guru dapat berinovasi secara produktif. (R1)

 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

IKLAN (ADVERTISEMENT)

Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook dan twitter serta dapatkan informasi terbaru dari kami disana.

Jejak Pendapat



Komentar Terakhir

  • best place to order viagra online

    viagracanadashop <a href="https://viagrafbs.com/">boots viagra</a> ...

    View Article
  • new viagra for women

    viagra review 100mg <a href="https://viagrafbs.com/">natural viagra ...

    View Article
  • buy viagra amsterdam

    viagra safe buy over internet <a href="https://viagrafbs.com/">buy ...

    View Article
  • viagra coupon pfizer walmart

    viagra purchase on line <a href="https://viagrafbs.com/">generic viagra ...

    View Article