Masyarakat Mulai Tertarik Ikut Pelatihan di BLK Komunitas

By Reaksi Nasional 30 Okt 2019, 15:12:17 WIBNasional

Masyarakat Mulai Tertarik Ikut Pelatihan di BLK Komunitas

Keterangan Gambar : Kepala BLK Komunitas, Al Mujahidin Riswadi.


Oleh Friendly Sianipar

REAKSI JAKARTA – Masyarakat mulai tertarik mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja (BLK). Mereka sadar, karena BLK diyakini sebagai salah satu lembaga yang mampu menerapkan dan meningkatkan pelatihan sesuai kompetensi pesertanya. Dengan pemahaman itu, para peserta pelatihan bakal lebih mudah memperoleh pekerjaan atau usaha sendiri.

Untuk mendekatkan pelatihan itu, Ditjen Binalatas Kementerian Ketenagakerjaan sengaja merancang, membangun dan menerapkan pelatihan berbasis masyarakat agar lebih mudah mengikuti pelatihan tersebut. Terobosan ini dikenal dengan BLK Komunitas.

BLK Komunitas itu sudah dimulai sejak 2017 lalu dan pengoperasiannya dimulai pada 2018. Salah satu BLK Komunitas yang telah beroperasi itu adalah BLK Komunitas Al Mujahidin di Samarinda, Kalimatan Timur.

Sejak BLK Komunitas ini beroperasi, pengelolanya selalu kewalahan menerima pendaftaran karena minat masyarakat di sekitarnya mengikuti pelatihan sangat tinggi. BLK Komunitas ini hanya melaksanakan pelatihan satu paket yang terdiri dari 16 peserta. Akibatnya banyak masyarakat yang tidak tertampung untuk mengikuti pelatihan.

“Dari puluhan peminat yang mendaftar, kami hanya bisa menerima 16 peserta untuk satu angkatan (paket) dengan lama pelatihan 1,5 bulan,” kata Kepala BLK Komunitas Al Mujahidin Riswadi, Senin (29/10)

Ia mengatakan, pihaknya hanya menyelenggarakan pelatihan dengan kejuruan TIK (Teknologi Informasi dan Komputer). Selama 2018 pelatihan diikuti 80 peserta yang dilaksanakan dalam 5 paket (angkatan). Tiap paket diikuti 16 siswa dengan pelatihan selama 1,5 bulan.

Tahun 2019 ini, pelatihan akan diselenggarakan dalam 6 paket dengan total peserta 96 orang. Anggaran operasional sebesar Rp 300 juta atau Rp 50 juta/paket diperoleh dari Ditjen Binalattas yang disalurkan melalui BLK Samarinda selaku pembina BLK Komunitas di Kaltim.

Hingga saat ini sudah terselenggara 4 paket dan paket ke-5 dibuka mulai 28 Oktober 2019, kemudian ditutup dengan paket ke-6 yang akan dilaksanakan Desember 2019. Sehingga dalam dua tahun ini ada 176 orang yang menyelesaikan pelatihan di BLK Komunitas Al Mujahidin dan mendapat sertifikat kelulusan dari BLKK dan sertifikat kompetensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

“Posisi saat ini, 25% siswa BLK dari santri Ponpes Al Mujahidin dan mahasiswa UNU, sedang 75% lainnya dari masyarakat sekitar. Bahkan ada peserta dari luar Samarinda,” ujar Riswadi.

Terkait penyerapan ke pasar kerja, ia menyebutkan, 30% lulusan BLK Komunitas AL Mujahidin bekerja di sejumlah kantor atau perusahaan. Kemudian ada yang membuka usaha mandiri dengan jasa pengetikan (rental) serta ada yang menjadi perancang busana dengan keahliannya sebagai desain grafis.

“Monitoring ini dilakukan melalui grup WhatsApp yang dibuat tiap angkatan dan terkoneksi kepada kami,” ujarnya

Ia mengatakan, untuk memperluas penyerapan pasar kerja, pihaknya akan melakukan sistem jemput bola ke beberapa perusahaan dan pemerintah daerah, khususnya aparat desa yang belum banyak menguasai teknis komputer.

Tentang jumlah instruktur, lanjut Riswadi, idealnya dua orang, tapi sampai saat ini hanya ada satu. Selama ini memang tak ada masalah karena ada asisten yang membantu jika instruktur berhalangan, meski asisten tersebut belum memiliki sertifikat sebagai instruktur.

Sebagaimana diketahui, Kemnaker sejak 2017 membangun 50 BLK Komunitas. Seiring perkembanganya, alumni BLK Komunitas ini terserap bekerja di industri dan tak sedikit yang membuka usaha.

Dengan perkembangan itu pula maka pada 2018 jumlah BLK Komunitas meningkat menjadi 125. Kemudian di 2019, Kemnaker membangun 1.000 BLK Komunitas dengan anggaran Rp 1 triliun. Rencananya, seluruh BLK Komunitas itu akan beroperasi awal 2020 mendatang dan mampu melatih 32 ribu orang dengan 10 pokok kejuruan.

Pembangunan BLK Komunitas bukan saja untuk komunitas pesantren, tapi juga untuk basis agama Kristen dan komunitas agama lainnya, termasuk masyarakat sekitar yang membutuhkan.

“Anggaran pembangunan BLK Komunitas ini digunakan membangun sarana dan prasarana, termasuk dana operasional BLK. Kemnaker menetapkan 10 kejuruan, namun BLKK dibebaskan memilih satu kejuruan yang diinginkan sesuai potensi dan kebutuhan masyarakat setempat.  Misalnya kejuruan otomotif, teknik las, listrik, teknologi informasi, pengolahan hasil pertanian/perikanan, pariwisata, atau industri kreatif,” kata Dirjen Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Binalattas) Kemnaker, Bambang Satrio Lelono, belum lama ini. (R2)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment