Kesadaran Pengusaha Terapkan K3 Masih Rendah
Perusahaan Harus Dimotivasi

By Reaksi Nasional 09 Okt 2020, 10:20:53 WIBNasional

Kesadaran Pengusaha Terapkan K3 Masih Rendah

Keterangan Gambar : Menaker Ida FauziahMenaker Ida Fauziah menyerahkan penghargaan kepada salah seorang pengusaha yang dinilai berhasil menerapkan zero accident di perusahaannya


Oleh Friendly Sianipar

REAKSI JAKARTA –  Penegakan norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)  penting di saat pandemi Covid-19. Penegakan itu untuk menjaga kelangsungan usaha, sekaligus menjaga keselamatan pekerja di tempat kerja.

Untuk menjaga keberlangsungan pelaksanaan K3, tiap tahun Kementerian Ketenagakerjaan menganugrahi penghargaan kepada perusahaan dan gubernur. Ada 1.237 perusahaan yang memperoleh penghargaan karena dianggap berhasil melaksanakan zero accident. Kemudian memberikan penghargaan kepada 2.362 perusahaan karena menerapkan Sistem Manajemen K3 (SMK3).

 Selain itu, Kemnaker juga memberikan penghargaaan kepada 233 perusahaan karena menerapkan pencegahan HIV - AIDS di tempat kerja. Ada juga penghargaan pembina K3 terbaik yang diberikan kepada 19 gubernur.

“Penghargaan K3 ini bertujuan memotivasi perusahaan, pemerintah daerah, dan pekerja untuk mengimplementasikan K3 dengan baik. Penegakan norma K3 ini penting agar tetap terjaga kelangsungan usaha, sekaligus menjaga keselamatan pekerja di tempat kerja,” kata Menaker Ida Fauziah ketika memberikan penghargaan itu di Gedung Serbaguna Kemnaker, Kamis (8/10).

Untuk mendukung keberlangsungan usaha, ia mengaku telah menandatangani Keputuan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 312 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Keberlangsungan Usaha Dalam Menghadapi Pandemi Penyakit. Surat keputusan itu dapat dijadikan sebagai acuan dan pedoman semua perusahaan, sehingga upaya recovery ekonomi dari 5 dampak pandemi bisa terus dilakukan.

 Ia mengatakan, penganugerahan penghargaan K3 tahun 2020 merujuk dari hasil penilaian monitoring dan evaluasi pelaksanaan K3 selama satu tahun (April 2019 hingga April 2020).

Dari penilain monitoring pada 2019 itu, kata Ida, ada 21.613 perusahaan melakukan pelanggaran norma K3. Angka tersebut masih tinggi, sehingga membutuhkan usaha untuk menurunkannya. Kemudian jumlah kecelakaan kerja pada Januari - September 2019 terjadi penurunan jika dibandingkan pada 2018. Untuk 2019, jumlah kecelakaan kerja sebanyak 130.923 kasus. Sementara pada 2018 sebanyak 157. 313 kasus.

“Meski angka kecelakaan kerja menurun, namun upaya untuk memperkecil angka itu harus ditingkatkan, baik berupa sosialisasi, training, pengawasan, pemberian saran, pembinaan, penegakan hukum, hingga pemberian penghargaan. Saya bersyukur, upaya yang dilakukan sudah memperlihatkan hasil, di mana perusahaan yang mempertahankan zero accident setiap tahun mengalami peningkatan,” katanya.

 Pada 2019 misalnya, terdapat 1.052 perusahaan penerima penghargaan zero accident. Sementara pada 2020 jumlahnya meningkat sebanyak 1.237 perusahaan, atau meningkat sebesar 12,4%. Untuk itu, untuk meningkatkan efektifitas perlindungan K3 secara terencana, terukur, terstruktur dan terintegrasi dengan sistem di perusahaan maka dunia industri perlu menerapkan sistem manajemen K3 atau SMK3. Penerapan SMK3 bersifat normatif, sehingga wajib ditaati perusahaan.

Sebagaimana diketahui, sejak SMK3 diberlakukan pada 1996, tingkat kepatuhan perusahaan menerapkan SMK3 terus meningkat. Sebagai gambaran, jumlah perusahaan yang mengantongi sertifikat SMK3 pada tahun 2019 sebanyak 1.466 perusahaan. Sementara pada 2020, jumlah tersebut meningkat menjadi 2.362 perusahaan, atau meningkat sebesar 23,6%.

Kemudian untuk pencegahan dan penanggulangan HIV-AIDS di tempat kerja,  233 perusahaan mendapatkan penghargaan itu pada tahun ini. Sementara pada 2019 lalu, hanya ada 172 perusahaan.

“Maka dapat disimpulkan, kesadaran pelaku usaha untuk melakukan program ini masih rendah. Pelaku usaha harus terus dimotivasi,” tandasnya. (R1)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment