Kemen PPPA Galang Perguruan Tinggi Wujudkan Infrastruktur Ramah Anak

By Reaksi Nasional 13 Okt 2020, 13:36:49 WIBNasional

Kemen PPPA Galang Perguruan Tinggi Wujudkan Infrastruktur Ramah Anak

Keterangan Gambar : Deputy Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA, Lenny Rosalin


Oleh Friendly Sianipar

REAKSI JAKARTA – Bermain, merupakan salah satu hak anak menurut Konvensi Hak Anak (KHA). Oleh karena itu, infrastruktur pendukung harus diupayakan, dengan menyediakan ruang bermain ramah anak.

Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) Lenny Rosalin menyebutkan, meski banyak tersedia  ruang bermain bagi anak namun sarana dan prasarananya masih banyak belum ramah anak. Kondisi ini menyebabkan anak dapat menjadi korban.

“Kita mendorong anak berada di lingkungan aman dan nyaman. Inilah konsep perlindungan anak, agar anak tidak menjadi korban. Sering kali kejadian atau kasus kekerasan pada anak terjadi di ruang bermain. Ruang bermainnya belum ramah anak seperti mudah gelap, lokasinya menciptakan kondisi yang tidak ada pengawasan di sana, dan banyak lagi,” kata Lenny Rosalin dalam Talkshow bertajuk Sinergi Perguruan Tinggi atas Perencanaan dan Perancangan Infrastruktur Ramah Anak (IRA) melalui daring, di Jakarta, (12/10).

Ia mengatakan, Ruang Bermain Ramah Anak (RBRA) merupakan ruang tempat atau wadah untuk mengakomodasi kegiatan anak bermain dengan aman dan nyaman, terlindungi dari kekerasan dan hal-hal lain yang membahayakan, tidak dalam situasi dan kondisi diskriminatif.

“Kami ingin ini jadi inovasi dalam menata kota. Kalau infrastruktur layak bagi anak maka akan layak bagi semua usia. Kita berikan perlindungan agar saat dewasa mereka menjadi sumber daya manusia unggul,” kata Lenny.

Menurut Lenny, sinergi perguruan tinggi dalam mengembangkan wilayah dan infrastruktur ramah anak dapat dilakukan melalui pendidikan, seperti bahan ajar atau mata kuliah terkait wilayah dan infrastruktur ramah anak.

Pada kesempatan itu, Ketua KBK Permukiman dan Perkotaan Institut Teknologi Indonesia Rino Wicaksono mengatakan, unsur utama RBRA adalah ruang terbuka hijau. Tidak seperti taman kota yang lebih mengedepankan aksesoris atau estetika, RBRA menurut Rino lebih mengedepankan pemanfaatan yang harus dapat diakses oleh semua anak.

“Prinsip utama pengembangan RBRA adalah gratis, tidak boleh bayar sepeser pun sehingga tidak ada satu orang pun dari anak Indonesia yang terhambat untuk bisa memanfaatkannya karena tidak punya uang. Kemudian memiliki prinsip non diskriminatif, kepentingan terbaik untuk anak, partisipasi anak, aman dan selamat, nyaman, kreatif dan inovatif, serta sehat,” jelas Rino.

Kepala Pusat Studi Perencanaan pembangunan Regional Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Bambang Hari Wibisono mengatakan, anak memang perlu dilibatkan agar kebutuhannya dapat terakomodasi dengan baik. Tidak hanya sekedar menyediakan ruang bermain, dalam mengembangkan RBRA yang paling penting adalah komitmen.

“Kunci utama di dalam mengembangkan IRA adalah komitmen. Tidak hanya komitmen saja tetapi komitmen yang berkelanjutan dan disebarkan sampai tingkat lokal atau daerah. Selain itu, perlu adanya upaya mengembangkan sesuai karakteristik lokal namun tetap inklusif, adanya kemitraan bersifat lintas sektor, dan peran serta masyarakat dan anak,” ujar Bambang. (R1)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment