Berdayakan Lansia pada Era New Normal

By Reaksi Nasional 23 Jun 2020, 15:22:49 WIBNasional

Berdayakan Lansia pada Era New Normal

Keterangan Gambar : Menteri PPPA Bintang Puspayoga memimpin Webinar di Hari Lansia ke 24


Oleh Friendly Sianipar

REAKSI JAKARTA - Pandemi Covid-19 menjadi ‘blessing’ bagi para lanjut usia (lansia). Di tengah tata kehidupan baru (new normal), para Lansia perlu mendapatkan perhatian khusus agar tetap sehat menjalani kehidupan.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga mengatakan, Lansia merupakan aset berharga bagi kemajuan bangsa. Mereka harus ditempatkan pada posisi yang mulia serta megasah potensi yang dimiliki.

“Kami akan mengkaji lebih dalam lagi terkait implementasi program/kebijakan seperti apa yang harus dilakukan demi kepentingan terbaik dan kesejahteraan Lansia,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga dalam Webinar Hari Lanjut Usia Nasional ke-24 dengan Tema “Sayangi Lansia Menuju Lansia Bermartabat di Era New Normal”, di Jakarta, Selasa (23/6).

Jika selama ini, katanya melanjutkan, isu Lansia tidak pernah muncul ke permukaan dan kurang mendapatkan perhatian maka momentum pandemi ini bisa dijadikan sebagai momen mengangkat isu tentang mereka. Dengan begitu, isu lansia akan mendapatkan perhatian dari banyak pihak.

Dimasa pandemi Covid-19, Kemen PPPA bekerjasama dengan lebih dari 20 perusahaan, asosiasi profesi, organisasi kewanitaan, jaringan relawan maupun donatur lainnya telah memberikan paket-paket pemenuhan kebutuhan spesifik kepada lansia, perempuan, anak, dan penyandang disabilitas sebagai kelompok rentan terdampak Covid-19 membantu kebutuhan mereka.

Berdasarkan data yang dihimpun Gugus Tugas Penanganan Covid-19 sampai dengan 20 Juni 2020, persentase lansia yang terdampak Covid-19 yakni sebesar 13,8 persen lansia positif, 11,7 persen dirawat/diisolasi, 12,5 persen sembuh, dan 43,7 persen meninggal. Meskipun dari jumlah pasien positif dan dirawat/diisolasi persentasenya tidak terlalu tinggi untuk kelompok lansia, namun jumlah kematiannya merupakan yang tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, yaitu mencapai 43,7%.

“ Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus untuk menjaga lansia tetap sehat dalam tatanan new normal yang akan dijalani. Untuk itu, dibutuhkan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak, terutama keluarga, untuk memastikan perlindungan terhadap lansia, apalagi dalam masa pandemi dan tatanan new normal,” kata Bintang.

Mantan Menteri PPPA, Linda Amalia Sari Gumelar mengatakan, selain kesehatan, yang perlu diperhatikan atau diantisipasi dalam kehidupan Lansia adalah masalah sosial ekonomi. “Lansia harus mendapatkan akses dalam hal edukasi dan pendampingan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan new normal. Saat masa pandemi dan era new normal, mereka harus tetap berada di rumah karena termasuk kelompok yang sangat rentan terpapar Covid-19. Oleh karena itu, Kemen PPPA dapat menjadikan ini sebagai momentum untuk menyosialisasikan Gerakan Sayangi Lansia (GSL) secara lebih masif,” kata Linda menyarankan.

Ia mengatakan, yang tidak kalah penting adalah mengubah cara pandang masyarakat bahwa lansia bukanlah beban keluarga, tetapi potensi pembangunan bila mereka dipenuhi hak-haknya dan mengoptimalisasi potensi yang dimilikinya. Untuk mewujudkannya dibutuhkan peran dari lansia itu sendiri, keluarga, dan lingkungannya. “Saya berpesan kepada seluruh lansia di Indonesia agar tetap optimis dengan perubahan pola hidup di era new normal ini dengan tetap melakukan aktivitas positif yang sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri PPPA periode 2004-2009, Meutia Hatta Swasono mengatakan lansia termasuk dalam kelompok rentan di masa pandemi Covid-19 dan era new normal. Untuk itu, penerapan peraturan mengenai new normal yang berlaku di Indonesia, khususnya bagi lansia harus diimbangi dengan pengetahuan budaya yang bermanfaat. “Khusus untuk era new normal ini, hal yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengutamakan pandangan budaya tradisional dalam penerapannya kepada lansia. Kemudian bagaimana menjalankan prinsip umum dan prinsip budaya masyarakat yang positif untuk melindungi lansia di era new normal,” ujar Meutia Hatta.

Menurut Meutia, setidaknya ada tiga faktor yang membawa corak baru pada kehidupan lansia yang dapat menjaga keseimbangan dalam keluarga di era new normal. Pertama, faktor biologi dengan memenuhi kebutuhan fisik lansia dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Kedua, faktor psikologis dengan memenuhi kebutuhan mental lansia untuk disayangi dan dilindungi. Ketiga, faktor sosial budaya dengan memberikan sikap dan perilaku yang membuat lansia dihormati dalam keluarga.

Mantan Menteri PPPA Periode 2014-2019, Yohana Susana Yembise menuturkan pencanangan Gerakan Sayangi Lansia (GSL) pada 2018 menjadi sebuah momentum komitmen bersama untuk melindungi dan memenuhi hak lansia.

“Ini harus terus dilanjutkan dengan memperkuat komitmen untuk memberikan edukasi dan pemahaman pada seluruh keluarga Indonesia bahwa lansia harus dilindungi, dimuliakan, dan ditempatkan pada posisi yang sesuai. Janganlah kita memandang lansia sebagai objek, melainkan sebagai subjek pembangunan. Lansia juga harus bisa bangkit menghadapi era new normal ini dan tidak boleh menyerah dengan keadaan yang ada. Dalam hal ini peran pendamping terutama keluarga menjadi sangat penting untuk dilakukan dengan baik,” tutur Yohana Yembise.

Berdasarkan Proyeksi Penduduk hasil Survei Penduduk Antar Sensus 2015 (Badan Pusat Statistik) pada 2020, jumlah lansia di Indonesia sebesar 10,65 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 28 juta orang. Adapun persentase lansia perempuan lebih besar dibandingkan laki-laki, yaitu perempuan sebesar 52,34 persen dan laki-laki sebesar 47,66 persen. Proyeksi BPS ini juga menggambarkan persentase penduduk lansia terus meningkat sampai dengan tahun 2045, yaitu dari 9% pada tahun 2015 menjadi hampir 20% pada tahun 2045. (R1)



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment