88 % Perusahaan Rugi Masa Pandemi Covid-19

By Reaksi Nasional 25 Nov 2020, 14:26:31 WIBNasional

88 % Perusahaan Rugi Masa Pandemi Covid-19

Keterangan Gambar : Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono


Oleh Friendly Sianipar

REAKSI JAKARTA – Survei Kementerian Ketenagakerjaan kepada perusahaan menunjukan, sembilan dari 10 perusahaan di Indonesia mengalami dampak secara langsung terhadap pandemi Covid-19. Akibat dari itu, 80 persen perusahaan mengalami kerugian.

Survei itu dilakukannya melalui online, termasuk hubungan melalui telepon dan email kepada 1.105 perusahaan yang dipilih secara probability sampling sebesar 95 persen dan margin of error (MoE) 3,1 persen di 32 provinsi di lndonesia.

“Kerugian tersebut umumnya disebabkan penjualan menurun, sehingga produksi harus dikurangi,” kata Kepala Badan Perencanaan dan Pengembangan Ketenagakerjaan, Bambang Satrio Lelono di Jakarta, Selasa (24/11/2020).

Hasil survei yang dilakukan dengan INDEF menunjukan adanya penurunan permintaan, produksi, dan keuntungan umumnya pada perusahaan UMKM sebesar 90 persen. Perusahaan yang terdampak terbesar, yakni penyediaan akomodasi makan dan minum, real estate dan konstruksi.

Meski demikian, kata Bambang, sebagian besar perusahaan tetap mempekerjakan pekerjanya. 17,8 persen diantaranya yang mem PHK pekerjanya dan 25,6 persen merumahkan pekerjanya serta 10 persen yang melakukan keduanya.

“Kebijakan mem PHK dan merumahkan pekerjanya karena hal itu merupakan satu-satunya jalan untuk efesiensi di tengah masa pandemi,” kata Bambang.

Ia mengatakan, setelah pandemi, keterampilan teknologi paling dibutuhkan antara lain terkait penguasaan teknologi informasi dan komunikasi dan penguasaan teknologi industri untuk diversifikasi produk. Implikasinya, baik bagi pihak pemerintah dan swasta perlu menyediakan pendidikan dan keterampilan yang sarat dengan penguasaan teknologi.

“Implikasi setelah masa pandemi mengisyaratkan bahwa work form home menjadi pilihan utama bagi perusahaan, sehingga menjadi lebih fleksibel meskipun efesiensi jumlah tenaga kerja dan pengurangan upah menjadi tidak bisa dihindarkan,” ujarnya.

Bambang menyebutkan, penggunaan teknologi informasi dan komunikasi mempermudah transisi tersebut di era pandemi. Untuk merespons situasi pandemi, sebagian perusahaan telah merasakan berbagai kebijakan pemerintah, khususnya insentif perpajakan sebanyak 19,8 persen dan jaminan sosial ketenagakerjaan dan sejenisnya sebanyak 18,5 persen.

Meski demikian, katanya, banyak pula yang belum merasakan bantuan pemerintah di tengah pandemi, yakni 41,18 persen. Hal itu menandakan pemerintah perlu bergerak membantu perusahaan yang sebagian besar merasakan dampaknya.

Bambang mengatakan, hasil survei itu juga menyampaikan enam rekomendasi .Pertama, pemerintah perlu mengidentifikasi perusahaan yang terdampak lebih detail lagi agar mendapat akses lebih luas atas beragam program pemulihan ekonomi khususnya, insentif perpajakan, restrukturisasi pinjaman KUR dan non KUR, subsidi gaji, hingga akses terhadap kartu pra kerja.

Kedua, pemerintah perlu memperhatikan UMKM yang terdampak pandemi meskipun pemerintah telah memberikan bantuan dalam bentuk subsidi bunga KUR, restukturisasi pinjaman dan pengurangan pajak.

Ketiga, pemerintah perlu memperluas informasi pasar tenaga kerja yang berorientasi pada jenis pekerjaan, dan perusahaan juga perlu didorong untuk menentukan spesifikasi keahlian yang dibutuhkan agar terinformasikan skills demand secara lebih luas.

Keempat, kebutuhan pendidikan dan pelatihan yang dibutuhkan setelah pandemi berkaitan dengan teknologi, baik teknologi informasi maupun teknologi industri. Seperti terkait digital marketing, dan digital working.

Kelima, dibutuhkan kebijakan dan peraturan yang menjadi landasan flexible working arrangement yang menyangkut jabatan dan jenis pekerjaan tertentu.

Keenam, diperlukan kebijakan yang cukup komprehensif terkait penyatuan beberapa jaminan sosial bagi pekerja, baik terkait pendidikan dan kesehatan, termasuk program untuk masa pandemi yang lebih persisten.

Direktur Eksekutif Indef, Tauhid Ahmad, menyatakan di tengah pandemi, sebagian besar perusahaan masih beroperasi, tetapi dari sebagian besar perusahaan tersebut mengurangi jam kerja dan menerapkan work from home.

Ia mengatakan, implikasi ke depan bagi ekonomi dengan situasi pandemi membuat kondisi perekonomian akan berdampak cukup besar bahwa dengan demand, sebagian orang akan bekerja dari rumah.

“Permintaan barang dan jasa sedikit agak mengalami perubahan, ekonomi juga akan berubah mengikuti pola kerja yang selama ini ada, dan juga akan terus berkembang dengan apa yang flexible working arrangement yang saya kira akan menjadi tuntutan ke depan,” kata Tauhid. (R1)

 



Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment