Berawal dari Tantangan, Komunitas Difabel Sendangguwo Bantu Anak Temukan Bakat hingga Berprestasi

4 Min Read
Suasana pertemuan komunitas difabel Harsa Abipraya (Hasbi) bersama orang tua dan pendamping di Balai Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Sabtu (17/1/2026) sore.

, ReaksiNasional.com – Proses menemukan bakat dan potensi anak penyandang disabilitas bukanlah perkara mudah. Tantangan tersebut dirasakan langsung oleh Harsa Abipraya (Hasbi) yang berdiri di Kelurahan Sendangguwo, Kecamatan , Kota Semarang, dalam upaya mendampingi anak-anak difabel agar mampu berkembang, percaya diri, hingga berprestasi.

Pendiri komunitas Hasbi sekaligus Ketua Pekerja Sosial Masyarakat Kelurahan Sendangguwo, Tutik Wahyuningtyas, menegaskan bahwa setiap anak, termasuk penyandang disabilitas, memiliki bakat dan kelebihan masing-masing. Menurutnya, langkah awal yang paling penting adalah membangun pendekatan dengan orang tua agar anak diberikan ruang untuk berinteraksi dan mengikuti berbagai kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa komunitas Hasbi tidak hanya berfokus pada anak, tetapi juga melakukan pendampingan terhadap keluarga. Setelah anak-anak mengikuti kegiatan secara rutin, potensi mereka mulai terlihat, mulai dari keterampilan seni hingga kemampuan motorik. Namun demikian, peran orang tua tetap menjadi kunci utama dalam proses pengembangan tersebut, sementara komunitas berperan sebagai pendamping.

Komunitas Hasbi resmi berdiri pada 29 September 2021 dan sejak awal konsisten menggelar kegiatan Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu) bagi penyandang disabilitas setiap Jumat di akhir bulan. Pada masa awal pendirian, komunitas ini diluncurkan dengan dukungan Ketua TP PKK Kota Semarang saat itu, Krisseptiana Hendi, yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan dan pembinaan rutin.

Menurut Tutik, proses mendirikan komunitas tersebut memerlukan waktu yang tidak singkat. Sedikitnya sepuluh bulan dihabiskan untuk melakukan sosialisasi intensif, baik secara personal dari rumah ke rumah maupun melalui forum-forum PSM. Tantangan terberat adalah menghadapi keluarga yang masih tertutup dan enggan membuka kondisi anaknya kepada lingkungan sekitar karena faktor rasa malu atau kekhawatiran sosial.

Hal serupa juga diungkapkan Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Tembalang, Dwi Supratiwi, yang mengaku pernah menemui kasus anak difabel yang disembunyikan keluarganya selama belasan tahun dan tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat. Namun, seiring berjalannya waktu dan setelah melihat langsung kegiatan komunitas difabel, perlahan orang tua mulai membuka diri dan mengizinkan anaknya bergabung dalam aktivitas bersama.

Dalam kegiatan yang digelar Sabtu sore tersebut, komunitas Hasbi melibatkan komunitas difabel Kinasih Mataram dari Semarang Tengah serta Komunitas Kecil (Komcil) Petelan. Lebih dari 50 anak difabel mengikuti kegiatan bernyanyi dan bermain bersama sebagai bagian dari upaya penguatan mental dan sosial.

Selain pembinaan nonformal, komunitas Hasbi juga mengembangkan kegiatan produktif. Salah satunya produksi telur asin yang dikelola oleh para penyandang disabilitas dan dipusatkan di rumah warga RW 07 Sendangguwo. Anak-anak juga dilatih keterampilan motorik dan seni, seperti bermain angklung dan alat musik lainnya. Bahkan, kelompok angklung Hasbi pernah tampil dalam acara Pemerintah Kota Semarang serta diundang bermain di Kota Solo.

Dari proses pendampingan tersebut, sejumlah anak difabel mulai menunjukkan prestasi membanggakan. Salah satunya anak dari Ani Riwayati, yang kini berusia 15 tahun dan pernah meraih juara tiga turnamen bulu tangkis khusus difabel di Magelang. Meski saat ini sang anak memilih beralih minat ke olahraga tinju, keterbatasan biaya menjadi kendala untuk melanjutkan latihan.

Ani mengaku bersyukur dapat mempelajari bahasa isyarat secara mandiri sehingga mampu memahami keinginan putranya. Menurutnya, keterbatasan pendengaran tidak memengaruhi kecerdasan anaknya, bahkan di sekolah sang anak tidak mengalami hambatan dalam menerima pelajaran. Ia juga menyampaikan bahwa anaknya pernah dua kali mendapatkan bantuan alat bantu dengar dari pemerintah, meski akhirnya memilih tidak menggunakannya karena merasa kurang nyaman.

Melalui komunitas Hasbi, para pendamping berharap semakin banyak anak difabel yang berani tampil, menemukan bakatnya, serta memperoleh ruang yang setara untuk berkembang di tengah masyarakat. (*)

Share This Article