Banjir dan Rob Tak Kunjung Usai, DPRD Jateng Turun Tangan Cari Solusi untuk Warga Taman Marina

4 Min Read
Kondisi banjir dan rob yang menggenangi kawasan Taman Marina, RW IX Kelurahan Tawangsari, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang, yang mengganggu akses dan aktivitas warga, awal 2026.

, ReaksiNasional.com – Warga RW IX Kelurahan Tawangsari, Kecamatan , kembali menghadapi persoalan banjir dan rob yang tak kunjung terselesaikan. Kawasan di pesisir Kota Semarang hampir setiap tahun dilanda genangan air, bahkan saat tidak memasuki musim hujan, sehingga berdampak langsung pada aktivitas dan akses harian masyarakat.

Banjir yang berulang sejak lama tersebut menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk DPRD. Memasuki awal 2026, warga Taman Marina mengaku semakin pasrah karena persoalan banjir di wilayah mereka dinilai belum mendapat penanganan optimal meski laporan dan keluhan telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah.

Sejak perumahan Taman Marina dibangun pada 1994, warga mulai merasakan dampak genangan air, yang kemudian semakin parah sejak 2007. Selama kurang lebih 18 tahun terakhir, warga hidup berdampingan dengan banjir dan rob tanpa solusi menyeluruh. Kondisi ini menimbulkan keprihatinan, terlebih sebagian besar warga yang ber-KTP Kota Semarang merasa belum sepenuhnya memperoleh hak dasar sebagai warga kota, terutama dalam hal mitigasi banjir.

Persoalan status tanah yang masih berstatus Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) disebut menjadi salah satu kendala dalam penanganan banjir di kawasan tersebut. Namun demikian, warga menilai hak dasar mereka sebagai warga Kota Semarang tetap harus diperjuangkan melalui kebijakan dan dukungan lintas instansi.

Ketua RW IX Tawangsari Budi Winarno menyampaikan keluhan langsung terkait kondisi banjir yang terus berulang di Taman Marina. Ia mengatakan warga membutuhkan bantuan fasilitas umum, terutama untuk menjamin akses aktivitas sehari-hari yang kerap terhambat akibat banjir dan rob, meski hujan tidak turun.

Budi mengungkapkan dirinya menghuni Taman Marina sejak 1998 dan mulai merasakan banjir parah sejak 2007. Menurutnya, pada awal pembangunan kawasan tersebut belum terjadi banjir, namun kondisi berubah setelah adanya perbaikan jalan di sekitar kawasan perumahan yang menyebabkan air masuk ke lingkungan Taman Marina. Ia juga menyebut warga kerap mengalami kesulitan dalam mengajukan surat dan usulan ke perangkat terkait karena belum adanya solusi konkret.

Ia menambahkan, warga berharap setidaknya ada pembangunan peninggian jalan sebagai solusi awal agar akses di kawasan Taman Marina kembali normal. Budi mengenang pada 2018 lalu, banjir di wilayah tersebut pernah mencapai setinggi pinggang orang dewasa. Pada awal 2026 ini, ia mengapresiasi bantuan pompa Gordon berdiameter 12 inci dengan kapasitas 250 liter per detik dari Pusdataru Jawa Tengah yang diperkirakan mampu menyurutkan genangan dalam waktu sekitar lima jam.

Sementara itu, Anggota DPRD Kota Semarang Irwan Leokita yang melakukan kunjungan ke Taman Marina bersama Anggota DPRD Jawa Tengah Mohammad Farchan menyampaikan bahwa persoalan banjir di kawasan tersebut masih berkaitan dengan status tanah serta kebijakan lintas instansi. Meski demikian, DPRD berupaya mendorong solusi minimal melalui kebijakan di tingkat Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Irwan berharap adanya koordinasi yang lebih kuat antara DPRD, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan Pemerintah Kota Semarang agar usulan warga Taman Marina dapat ditindaklanjuti secara konkret. Ia menekankan pentingnya pemulihan hak dasar warga, terutama akses jalan umum yang selama ini terdampak banjir dan rob, sehingga beban masyarakat di kawasan pesisir tersebut dapat berkurang. (*)

Share This Article