Bandeng 19 Kilogram Laku Rp50 Juta, Desa Pangkahwetan Juara Kontes Bandeng Kawak Gresik 2026

3 Min Read
Seekor bandeng kawak seberat 19 kilogram milik petambak Desa Pangkahwetan saat ditampilkan dalam kontes dan lelang Pasar Bandeng Kawak 2026 di Gresik.

GRESIK, ReaksiNasional.com – Seekor bandeng kawak seberat 19 kilogram dari Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik berhasil memecahkan rekor dalam kontes dan lelang Pasar Bandeng Kawak 2026 yang digelar di kawasan Bandar Grissee, Rabu (18/3/2026).

Bandeng milik Syaifullah Mahdi tersebut dinobatkan sebagai juara pertama setelah mengungguli peserta lain dengan ukuran panjang mencapai 114 sentimeter. Pada sesi lelang, bandeng jumbo yang dibudidayakan selama 17 hingga 18 tahun itu terjual dengan harga Rp50 juta kepada Petrokimia Gresik, menjadi salah satu momen paling menyita perhatian masyarakat.

Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan bahwa Pasar Bandeng merupakan tradisi budaya yang tidak hanya dijaga, tetapi juga terus dikembangkan sebagai bagian dari identitas daerah.

“Pasar Bandeng bukan sekadar tradisi tahunan menjelang Lebaran, tetapi bagian dari identitas budaya Gresik yang terus kita lestarikan bersama,” ujarnya.

Ia menambahkan, berbagai tradisi lokal seperti Rebo Wekasan di Manyar, Malam Selawe di Kebomas, hingga Festival Bandeng Kawak menjadi bagian dari kekayaan budaya yang memiliki dampak luas bagi masyarakat.

“Festival budaya ini memiliki multiplier effect, baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Kalau ingat bandeng, tentu ingat Gresik,” tegasnya.

Selain aspek budaya, sektor perikanan juga dinilai menjadi penopang penting perekonomian daerah. Pemerintah Kabupaten Gresik, lanjutnya, telah menyalurkan 9.825 ton pupuk bersubsidi bagi petani tambak untuk mendukung produktivitas budidaya, dengan harga sekitar Rp1.800 per kilogram atau jauh di bawah harga pasar.

Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman dalam laporannya menyebutkan bahwa Pasar Bandeng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2025. Penetapan ini menegaskan nilai historis dan sosial tradisi tersebut sebagai warisan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia menjelaskan, penyelenggaraan kontes dan lelang bandeng tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga meningkatkan perekonomian masyarakat serta memotivasi petani tambak untuk menghasilkan bandeng berkualitas tinggi.

Dalam kontes tahun ini, juara kedua diraih Askin dari Desa Pangkahwetan dengan bandeng seberat 14 kilogram dan panjang 100 sentimeter, sedangkan juara ketiga diraih Zainul Abidin dari Desa Watuagung, Kecamatan Bungah, dengan bandeng seberat 8 kilogram dan panjang 90 sentimeter.

Syaifullah Mahdi mengungkapkan bahwa proses budidaya bandeng berukuran besar membutuhkan waktu yang panjang dan ketelatenan.

“Untuk mendapatkan ukuran sebesar ini, masa budidayanya bisa mencapai 17 sampai 18 tahun,” ujarnya.

Kemeriahan Pasar Bandeng 2026 terasa sejak awal acara dengan berbagai rangkaian kegiatan, mulai dari kirab budaya, santunan anak yatim, hingga pertunjukan seni tradisional. Acara juga dimeriahkan dengan penampilan live cooking oleh Chef Rudy Choiruddin serta pembagian 2.000 porsi bandeng gratis kepada masyarakat.

Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi Pasar Bandeng di Gresik tidak hanya dipertahankan, tetapi juga terus dihidupkan sebagai ruang pertemuan antara budaya, kebersamaan, dan penguatan ekonomi rakyat.

Share This Article