Ad imageAd image

Atasi Masalah Sampah, Fatayat NU Kota Semarang Galakkan Urban Farming Berbasis Rumah Tangga

2 Min Read

, Reaksi Nasional – Pimpinan Cabang (PC) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kota Semarang secara masif mendorong anggotanya untuk memperkuat gerakan pertanian perkotaan () dan pengelolaan bank sampah. Langkah ini diambil sebagai upaya pemberdayaan perempuan sekaligus solusi penanganan limbah rumah tangga.

Gerakan tersebut menjadi bahasan utama dalam Pertemuan Rutin Triwulan PC Fatayat NU Kota Semarang bertajuk “Fatayat NU Eco-Agriculture: Transformasi Petani Milenial dengan Zero Waste” yang digelar di Aula Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Minggu (4/1/2026).

Ketua PC Fatayat NU Kota Semarang, Hj. Istighfaroh, menegaskan bahwa tema ini dipilih untuk membangun kesadaran para ibu muda agar lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.

“Mulai sekarang, kesadaran kita sebagai seorang ibu untuk peduli terhadap lingkungan harus terus ditekankan,” ujarnya.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Istighfaroh menjelaskan, konsep petani milenial yang diusung tidak memerlukan lahan luas atau harus berkotor-kotor di sawah. Para kader didorong memanfaatkan barang bekas rumah tangga, seperti galon air mineral, sebagai media tanam di pekarangan rumah.

Saat ini, program percontohan (pilot project) telah berjalan di RW 6, Kelurahan Meteseh. Menurut Istighfaroh, selain mengurangi volume sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), program ini juga bernilai ekonomis karena hasilnya dapat dikonsumsi sendiri untuk menekan pengeluaran belanja dapur.

“Paling tidak nanti bisa memetik cabai atau sayuran sendiri untuk memasak,” tambahnya.

Apresiasi Wakil Wali Kota

Wakil Wali Kota Semarang, , yang hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif Fatayat NU. Ia menilai langkah organisasi perempuan NU ini sangat strategis mengingat sampah telah menjadi isu nasional yang serius.

“Sangat menarik apa yang dilakukan Fatayat. Persoalan sampah ini mempengaruhi banyak sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ekonomi,” kata Iswar.

Iswar menekankan pentingnya peran ibu-ibu sebagai manajer rumah tangga dalam pengelolaan sampah di tingkat hulu. Sinergi antara pemerintah, Tim Penggerak PKK, dan Fatayat NU diharapkan mampu menciptakan perubahan perilaku di masyarakat.

“Pemerintah Kota sangat konsen dengan isu ini. Ibu-ibu adalah sasaran yang sangat tepat untuk membawa aksi perubahan nyata di lapangan, dimulai dari lingkungan terkecil,” pungkasnya.

Share This Article