SEMARANG, Reaksi Nasional – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tengah menyiapkan terobosan untuk melindungi lahan pertanian sekaligus mendorong regenerasi petani melalui program “Petani Muda Milenial Gajian”. Langkah ini diambil untuk menjawab tantangan minimnya minat generasi muda terjun ke sektor pertanian karena dianggap tidak menjanjikan masa depan yang pasti.
Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TPPD) Jawa Tengah, Zulkifli, dalam konferensi pers usai kegiatan Outlook 2026: Refleksi, Capaian, dan Tantangan Pembangunan Jawa Tengah di Chanadia Cipta Rasa, Jalan Erlangga, Kota Semarang, Sabtu (27/12/2025).
Zulkifli mengakui, saat ini mayoritas generasi muda lebih memilih bekerja sebagai buruh pabrik ketimbang menjadi petani. Ketidakpastian pendapatan dan jaminan masa depan menjadi alasan utama fenomena tersebut.
“Salah satu program Gubernur itu ada Kartu Zilenial yang membuat beberapa klaster pemuda. Nah, di situ ada salah satu program yang namanya Petani Muda Milenial Gajian,” ujar Zulkifli.
Ia menjelaskan, konsep program tersebut dirancang secara komprehensif dari hulu ke hilir. Dimulai dari akses permodalan kredit ringan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR), pendampingan pengolahan lahan oleh Dinas Pertanian, hingga peran Penjaminan Kredit Daerah (Jamkrida).
Keberadaan Jamkrida dinilai vital karena berfungsi sebagai asuransi serta memberikan jaminan kepastian pasar. Dengan skema ini, petani muda tidak akan merasa dirugikan saat masa panen tiba.
“Karena yang dikhawatirkan kita yang generasi muda itu kan tidak adanya kepastian. Nah, pertanian ini harus dipastikan dari hulu sampai hilir,” jelasnya.
Zulkifli menambahkan, strategi ini sejalan dengan paparan Guru Besar Ekonomi Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Firmansyah. Dalam forum tersebut, Prof. Firmansyah menyoroti bahwa umumnya petani memiliki latar belakang pendidikan rendah sehingga hanya mengandalkan bantuan pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan). Akibatnya, petani kerap dirugikan dengan rendahnya harga jual di tingkat petani, meskipun harga di pasaran sedang melambung tinggi.
Dalam kesempatan yang sama, Zulkifli juga memaparkan capaian strategis pada tahun pertama kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi. Selain pemenuhan layanan dasar pendidikan dan kesehatan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah berhasil menembus 10 besar nasional.
“Pertumbuhan ekonomi ini sesuai dengan target yang ditetapkan dalam RKPD Perubahan 2025,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut realisasi investasi Jawa Tengah pada triwulan III tahun 2025 mencatatkan serapan tenaga kerja tertinggi dibandingkan provinsi lain di Pulau Jawa.
Menatap tantangan ke depan, Zulkifli menegaskan pentingnya persiapan menuju industri berkelas tinggi (high class industry) yang didukung tenaga kerja berkualitas dan terampil.
“Ke depan, penurunan kemiskinan tidak hanya soal orang bekerja, tetapi juga kualitas pekerjaan dan pengetahuan tenaga kerjanya. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi Jawa Tengah,” tandasnya. (*)

