Antisipasi Lonjakan Campak, Pemprov Jateng Perkuat Imunisasi dan Edukasi Publik

3 Min Read
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menerima kunjungan kerja Komisi IX DPR RI terkait kesiapsiagaan penanggulangan KLB campak di Kantor Gubernur Jateng, Semarang, Senin (30/3/2026).

SEMARANG, ReaksiNasional.com – Pemerintah Provinsi memperkuat upaya pencegahan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) campak dengan menggencarkan imunisasi serta edukasi kepada masyarakat, menyusul meningkatnya tren kasus suspek dalam tiga tahun terakhir.

Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menyatakan bahwa tingkat penularan campak sangat tinggi sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan. Ia menyebut satu penderita campak dapat menularkan hingga 18 orang, jauh lebih tinggi dibandingkan Covid-19, sehingga penguatan imunisasi menjadi langkah kunci dalam pengendalian penyakit tersebut.

Saat ini, KLB campak tercatat terjadi di tiga kabupaten, yakni Cilacap, Klaten, dan Pati. Sementara itu, dua daerah lainnya, yaitu Brebes dan Kudus, berstatus suspek. Meski sebagian besar wilayah masih terkendali, potensi penyebaran tetap menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, jumlah suspek campak menunjukkan tren peningkatan sejak 2023 hingga triwulan pertama 2026, dengan puncak kasus terjadi pada Januari 2026 yang mencapai 792 suspek. Kondisi tersebut dinilai sebagai dampak terganggunya layanan imunisasi selama pandemi Covid-19.

Pemprov Jawa Tengah kini mendorong percepatan pemulihan cakupan imunisasi di seluruh wilayah, sekaligus mengintensifkan kampanye kesehatan kepada masyarakat. Pada 2025, cakupan vaksinasi MR bayi di Jawa Tengah tercatat mencapai 106,7 persen atau melampaui target, meskipun masih terdapat beberapa wilayah dengan cakupan rendah yang berpotensi menjadi titik penularan.

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan RI, Maria Endang Sumiwi, mengapresiasi capaian tersebut dan menilai Jawa Tengah mampu menjaga cakupan imunisasi di tengah jumlah penduduk yang besar. Ia menekankan pentingnya pemetaan wilayah dengan cakupan rendah hingga tingkat desa agar intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Sementara itu, Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, menilai langkah Pemprov Jateng sudah berada pada jalur yang tepat, namun perlu diperkuat dengan edukasi publik yang lebih luas dan melibatkan berbagai pihak, termasuk sekolah, orang tua, dan tokoh masyarakat.

Ia juga menyoroti masih adanya penolakan imunisasi oleh sebagian orang tua yang berpotensi meningkatkan risiko penularan. Oleh karena itu, peran tenaga pendidik dinilai penting dalam memberikan pemahaman mengenai pentingnya imunisasi bagi anak.

Campak sendiri merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular melalui percikan droplet saat batuk atau bersin, serta melalui permukaan yang terkontaminasi. Gejalanya meliputi demam, batuk, pilek, dan ruam, dengan risiko komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak, hingga kematian, terutama pada anak yang tidak mendapatkan vaksinasi.

Share This Article