Antisipasi Kemarau 2026, Gubernur Jateng Perintahkan Cek Embung dan Irigasi

3 Min Read
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meninjau Embung Alastuwo di Karanganyar, Rabu (7/4/2026), untuk memastikan kesiapan infrastruktur air menghadapi musim kemarau.

KARANGANYAR, ReaksiNasional.com – Menghadapi musim kemarau yang diprediksi mulai April 2026, Pemerintah Provinsi menginstruksikan pengecekan menyeluruh terhadap embung dan saluran irigasi guna memastikan ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor pertanian tetap terjaga.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan langkah antisipatif tersebut saat meninjau Embung Alastuwo di Desa Wonolepo, Kecamatan Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar, Rabu (7/4/2026). Ia meminta seluruh jajaran untuk melakukan pemeriksaan secara detail terhadap infrastruktur air agar tidak terjadi kekurangan pasokan di tengah musim kemarau.

Menurutnya, embung memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan air baku bagi masyarakat sekaligus mendukung kebutuhan irigasi persawahan. Oleh karena itu, kondisi embung harus dipastikan optimal, termasuk jaringan irigasi yang terhubung ke lahan pertanian.

Embung Alastuwo yang dibangun pada 2017 memiliki kapasitas tampung sekitar 6.723,30 meter kubik. Saat ini, embung tersebut dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi 186 kepala keluarga serta mengairi sekitar 35 hektare lahan pertanian saat musim kemarau.

Ahmad Luthfi mengungkapkan, sepanjang 2025 hingga awal 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah membangun sedikitnya 12 embung baru. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan di seluruh wilayah.

Ia pun meminta bupati dan wali kota di Jawa Tengah untuk segera mendata daerah yang masih membutuhkan embung baru agar dapat diusulkan pembangunannya dalam anggaran mendatang.

Selain pembangunan, optimalisasi fungsi embung yang sudah ada juga menjadi perhatian. Gubernur menekankan pentingnya memastikan seluruh saluran irigasi dalam kondisi baik agar mampu mendukung produktivitas pertanian.

Menurutnya, keberadaan embung yang berfungsi optimal akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan produksi pangan, khususnya padi, sebagai bagian dari upaya mencapai swasembada.

Pada 2026, Jawa Tengah menargetkan produksi padi mencapai 10,55 juta ton gabah kering giling (GKG). Sementara berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik, produksi padi periode Januari hingga Mei 2026 diperkirakan mencapai 4,69 juta ton GKG.

Ia menambahkan, pemerintah juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk Kodam IV/Diponegoro, dalam mengantisipasi potensi kekeringan melalui program pipanisasi dan sumurisasi. Koordinasi serupa dilakukan dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk memetakan wilayah yang membutuhkan intervensi selama musim kemarau.

Langkah tersebut diambil untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di sektor pertanian, tetap terpenuhi serta ketersediaan air baku tetap aman.

Sementara itu, seorang petani di wilayah Tasikmadu, Admin, mengaku keberadaan Embung Alastuwo sangat membantu, terutama pada musim tanam kedua. Namun, ia menyebut pada musim tanam ketiga sering terjadi kendala akibat terbatasnya pasokan air dan kondisi saluran irigasi yang belum optimal.

Dengan langkah antisipatif tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berharap dampak musim kemarau dapat diminimalkan dan produktivitas pertanian tetap terjaga.

Share This Article