Aku, Kau, dan Negeriku

2 Min Read
foto warna warni pawai budaya nusantara 2014
foto:nationalgeographic.co.id
Bertanya kapankah ?
Kau mengutuk pertanyaan-pertanyaanku

Aku ini ingin merajuk

Bertanya sampai manakah ?

Kau mengganaskan peluru malangmu

Aku ini ingin merajuk

Bertanya dari manakah asalnya keruh ?

Kau salahkan sebelummu

Aku ini ingin merajuk

Ingin ku mengajakmu bernostalgia

Agar kenangan itu terbuai kembali

Tetapi, kau mahadahsyat merajuk !

Jadi kau yang merajuk, aku yang terkutuk

Aku kau ini negeriku

Katanya…

Negeriku milikmu negeri kita

Negerimu miliku negeri kita

Masih sama berbaris sajak

Aku kau negeriku…

Kakek bersendehkan tembok malang

Cucu berkalung tasbih mendoa

Kepada illahi akan kepercayaan

Melihat pancaran masa depan yang

Mengalir mengikuti  arus

Aku kau negeriku…

Di dalamnya akan ku dongengkan

Sebuah roman kebodohan !

Dengarkan…dengarkan..

Janji demi janji terlontar sangat deras

Realitanya sudah menjadi hal wajar

Negriku bukan tong sampah !

Yang seenaknya bisa dipermainkan kapan saja

Bahkan Menindas sudah dianggap malaria

Adu domba pun menjadi senapan andalan

Rakyat kecil yang hanya bisa berpangku tangan

Menikmati Kebiadaban yang sangat memalukan

Aku malu, malu pada pejuang terdahulu

Pada cita cita membara bangsa ini

Pada leluhur sejarah yang telah terkubur

Pada Tuhan Yang Maha Esa

Bahkan aku mencoba butakan hati

Melihat berita di televisi

Lebih baik aku mengurung diri

Menunggu sang keajaiban datangi bangsa ini


*Eva Latief 
Purwokerto, 1 Juni 2016

Share This Article