Ahmad Luthfi Apresiasi Kritik Mahasiswa, Tekankan Etika dan Solusi

3 Min Read
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat menjadi pembicara kunci dalam pembukaan Training Raya Akbar HMI Cabang Semarang di Balai Diklat Kementerian Agama RI, Kota Semarang, Selasa (30/6/2026), menekankan pentingnya kritik mahasiswa yang disertai etika dan solusi.

, ReaksiNasional.com – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa kritik dari kalangan mahasiswa merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi yang harus dijaga. Namun, ia mengingatkan agar kebebasan menyampaikan pendapat dilakukan secara beretika, sesuai norma, dan tidak melanggar ketentuan hukum.

Pernyataan tersebut disampaikan saat ia menjadi pembicara kunci dalam pembukaan Training Raya Akbar Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Semarang di Balai Diklat Kementerian Agama RI, Kota Semarang, Selasa (30/6/2026). Dalam kesempatan itu, Luthfi menyatakan bahwa mahasiswa memiliki hak untuk berekspresi dan menyampaikan aspirasi di muka umum sebagaimana dijamin dalam peraturan perundang-undangan.

“Mahasiswa di kampus bebas untuk berekspresi. Mahasiswa juga berhak menyampaikan pendapat di muka umum, itu ada undang-undangnya. Saya menghargai itu sebagai bentuk kepedulian adik-adik mahasiswa kepada bangsa dan negara,” ujar Luthfi.

Meski demikian, ia menekankan bahwa kebebasan tersebut harus diiringi tanggung jawab. Kritik dan aspirasi akan lebih bermakna apabila disampaikan dengan menjunjung tinggi etika, norma, serta koridor hukum yang berlaku.

Selain mengapresiasi sikap kritis mahasiswa, Luthfi juga mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan melalui gagasan dan inovasi. Menurutnya, mahasiswa merupakan agen perubahan yang memiliki energi, idealisme, dan kapasitas intelektual untuk menjawab berbagai tantangan zaman.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Mempunyai energi lebih. Energi ini harus disalurkan dengan menyampaikan ide-ide konstruktif,” katanya.

Ia menjelaskan, tantangan yang dihadapi Indonesia saat ini semakin kompleks, mulai dari dinamika geopolitik global, tekanan ekonomi, hingga pesatnya perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan. Dampak konflik internasional, seperti perang Rusia-Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah, juga disebut turut memengaruhi kondisi ekonomi dan fiskal.

Menurutnya, kondisi tersebut menuntut pemerintah daerah untuk lebih kreatif dalam menjalankan pembangunan. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak dapat hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah maupun pendapatan asli daerah, tetapi membutuhkan kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.

“Kita gandeng semua, termasuk mahasiswa. Kita harus ciptakan Jawa Tengah yang adem ayem,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Semarang, M Nabil Muallif, menyampaikan bahwa Training Raya Akbar tersebut bertujuan mencetak kader yang mampu meningkatkan daya saing bangsa di tengah perubahan global. Ia menilai tantangan seperti krisis geopolitik dan disrupsi teknologi harus dijawab dengan kualitas sumber daya manusia yang unggul.

Menurutnya, mahasiswa siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam mendukung pembangunan daerah maupun nasional.

Share This Article