Ad imageAd image

3 Minggu Bertahan di Pengungsian Aceh, Pemulangan Warga Jateng Gunakan Hercules Berjalan Haru

5 Min Read

SEMARANG, reaksinasional.com – Rasa cemas yang menyelimuti ratusan perantau asal di Pulau Sumatra akhirnya berganti menjadi tangis haru. Setelah terjebak selama kurang lebih tiga pekan dalam ketidakpastian di posko pengungsian akibat bencana banjir bandang yang melanda , Aceh, mereka akhirnya bisa kembali memijakkan kaki di tanah kelahiran. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) secara resmi menuntaskan misi kemanusiaan pada Sabtu (20/12/2025), sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam melindungi warganya di mana pun berada.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memantau langsung jalannya operasi pemulangan warga Jateng ini. Ia menjelaskan bahwa proses evakuasi ini bukanlah perkara mudah karena melibatkan koordinasi lintas sektoral yang kompleks, mulai dari pemerintah pusat, TNI Angkatan Udara, hingga pemerintah daerah di lokasi bencana. Menurut Luthfi, keselamatan dan kepastian kepulangan para perantau ini menjadi prioritas utama pemerintah provinsi sejak kabar bencana tersebut mencuat.

“Alhamdulillah, proses pemulangan warga Jateng berjalan lancar. Ini semua berkat koordinasi intensif kita dengan daerah operasi (daops) di Sumatra. Warga sudah diberangkatkan dengan aman dan langsung dijemput oleh tim dari Sekretariat Daerah (Setda) serta perwakilan bupati dari masing-masing daerah asal,” ujar Ahmad Luthfi saat memberikan keterangan pers di Semarang.

Berdasarkan data rinci yang dihimpun Pemprov Jateng, total terdapat 100 orang yang masuk dalam daftar manifest evakuasi kali ini. Dari jumlah tersebut, sebaran daerah asal warga didominasi oleh wilayah pesisir selatan dan barat Jawa Tengah. Tercatat sebanyak 54 orang berasal dari Kabupaten Cilacap, disusul 34 orang dari Kabupaten Brebes, 7 orang dari Kabupaten Pemalang, 3 orang dari Kabupaten Kebumen, serta masing-masing 1 orang dari Kabupaten Pekalongan dan Grobogan.

- Advertisement -
Ad imageAd image

Luthfi menambahkan latar belakang para warga yang dievakuasi tersebut mayoritas adalah pekerja keras yang mengadu nasib di tanah rantau. “Rata-rata saudara-saudara kita ini bekerja sebagai peneres atau penyadap getah pinus di sana. Musibah banjir membuat mereka kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal sementara. Kami juga sudah memastikan seluruh keluarga mereka di kampung halaman telah dihubungi untuk menyambut kedatangan ini,” imbuhnya.

Proses logistik pemulangan warga Jateng ini dilakukan dengan skema estafet menggunakan moda transportasi militer dan darat. Para warga diterbangkan dari Bandara Takengon, Aceh, menggunakan pesawat angkut berat Hercules milik TNI Angkatan Udara sekitar pukul 11.00 WIB. Pesawat sempat melakukan transit di Medan sebelum akhirnya mendarat mulus di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada pukul 14.15 WIB. Wajah-wajah lelah namun lega tampak jelas saat mereka turun dari perut pesawat “Gajah Mada” tersebut.

Setibanya di Jakarta, tanggung jawab pengurusan diambil alih oleh Badan Penghubung Provinsi Jawa Tengah. Di sana, para warga diberikan fasilitas tempat istirahat sementara, logistik makanan, dan pemeriksaan kesehatan singkat sebelum melanjutkan perjalanan darat. Untuk mobilisasi menuju kampung halaman, Pemprov Jateng mengerahkan armada khusus berupa dua unit bus besar yang membawa rombongan menuju Cilacap dan satu unit bus untuk tujuan Brebes. Sementara itu, bagi warga yang berasal dari Grobogan dan Kebumen, pemerintah memfasilitasi perjalanan mereka menggunakan layanan travel eksklusif hingga sampai di depan pintu rumah masing-masing.

Komitmen Pemprov Jateng ternyata tidak berhenti pada sekadar memulangkan fisik warga semata. Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pemerintah juga memikirkan keberlangsungan hidup para korban pasca-bencana. Melalui kolaborasi strategis dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jawa Tengah, setiap kepala keluarga yang dipulangkan juga diberikan santunan berupa modal usaha. Langkah ini diambil agar mereka tidak terpuruk secara ekonomi setibanya di kampung halaman.

“Tanggung jawab kami tidak selesai saat mereka sampai di rumah. Transportasi kami tanggung sepenuhnya, gratis. Lebih dari itu, kami juga berikan modal usaha bekerja sama dengan Baznas. Tujuannya agar mereka bisa segera bangkit, menata kembali kehidupan, dan melakukan pemulihan ekonomi keluarga di kampung halaman tanpa harus bingung mau kerja apa,” pungkas Luthfi menutup keterangannya. Misi pemulangan warga Jateng ini menjadi bukti solidaritas dan respon cepat pemerintah daerah dalam menangani krisis kemanusiaan yang menimpa warganya, meski berada di pulau yang berbeda. (*)

Share This Article