100 Tahun NU Tak Pernah Berhenti Berkhidmah kepada Bangsa

3 Min Read
Ribuan relawan NU Peduli Bencana dan kader muda Nahdlatul Ulama mengikuti Apel Kemanusiaan PWNU Jawa Tengah di Alun-alun Kabupaten Batang, Ahad (1/2/2026), meski diguyur hujan rintik.

, ReaksiNasional.com – yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah di Alun-alun Kabupaten Batang, Ahad (1/2/2026), berlangsung khidmat dan penuh semangat meski berada di bawah rintik hujan. Ribuan relawan bersama generasi muda NU dari berbagai daerah di Jawa Tengah tetap mengikuti seluruh rangkaian apel dengan tertib dan tidak beranjak dari tempatnya berdiri.

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, selaku pembina apel mengajak seluruh peserta untuk berefleksi atas perjalanan Nahdlatul Ulama yang telah memasuki usia satu abad. Ia menegaskan bahwa selama 100 tahun, NU mampu melintasi berbagai zaman dan tidak pernah berhenti berkhidmah kepada bangsa dan negara.

Menurut Gus Rozin, kondisi cuaca yang diguyur hujan saat apel berlangsung merupakan gambaran kecil dari ujian zaman yang terus dihadapi NU. Ia menyebut hujan tersebut sebagai tantangan untuk menguji kesetiaan kader dan relawan NU, sekaligus simbol keteguhan dalam mengabdi meski dihadapkan pada situasi yang tidak selalu bersahabat.

Ia menuturkan, keteguhan peserta mengikuti apel hingga selesai menjadi cerminan daya tahan NU dalam menghadapi tantangan ke depan. Jika NU mampu bertahan dan solid hari ini, maka NU diyakini akan tetap eksis dan semakin kuat pada 100 tahun berikutnya.

Gus Rozin menekankan bahwa eksistensi NU memiliki arti penting, terutama bagi Jawa Tengah yang merupakan wilayah rawan bencana. Melalui tema apel “Mengabdi dengan Hati, Melayani dengan Aksi”, ia mengingatkan bahwa NU tidak boleh absen ketika rakyat menghadapi kesulitan dan bencana.

Ia mencontohkan peran aktif lembaga-lembaga di bawah PWNU Jawa Tengah, salah satunya Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI), yang hingga saat ini masih berada di berbagai lokasi bencana, mulai dari wilayah Purbalingga hingga Aceh, sebagai wujud nyata khidmah NU kepada masyarakat.

Memasuki abad kedua, Gus Rozin mengajak NU untuk melakukan transformasi organisasi. Menurutnya, kebanggaan terhadap besarnya jumlah jamaah harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, profesionalitas, serta keahlian kader NU.

Ia menegaskan bahwa pada abad kedua ini, NU tidak cukup hanya membanggakan kuantitas jamaah, tetapi harus memperkuat kualitas, kemampuan, dan keterampilan agar mampu melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang berintegritas dan berdaya saing.

Mengakhiri amanatnya, Gus Rozin mengajak seluruh badan otonom dan lembaga di lingkungan NU untuk melebur menjadi satu kekuatan utuh dalam sebuah proses metamorfosis organisasi yang lebih profesional dan responsif terhadap tantangan zaman.

Rangkaian Apel Kemanusiaan diawali dengan berbagai atraksi pra-apel, di antaranya penampilan grup marching band serta demonstrasi ketangkasan para pendekar muda pencak silat Pagar Nusa Kabupaten Batang. Atraksi tersebut memukau warga yang menyaksikan jalannya kegiatan.

Menanggapi atraksi pencak silat tersebut, Gus Rozin menegaskan bahwa kemampuan bela diri yang dimiliki kader Pagar Nusa bukan untuk berkelahi, melainkan sebagai simbol ketangguhan mental dan kesiapsiagaan warga Nahdliyin dalam memasuki abad kedua Nahdlatul Ulama.

Share This Article